Hari Sabtu, 21 Juni 09 lalu aku sempat mengikuti seminar yang membuatku merasa bersyukur bisa menjadi salah satu warga fakultas kedokteran di universitas yang didamba banyak orang ini. Sulit dimasuki-banyak sainganya-uang kuliah mahal-fakultas menara gading-lulus maunya cepat kaya dan bermacam-macam stigma buruk yang sekarang berkembang di masyarakat terhadap UGM ini khususnya fakultas kedokteran. Seminar yang menghadirkan ketua senat UGM, rektor UI dan ketua IDI tersebut bertajuk ‘Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan’. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi dunia kesehatan Indonesia dimana banyak tenaga kesehatan yang berkumpul dan terpusat di kota-kota besar untuk mengejar nominal sementara ada suatu daerah di Indosesia yang masih kekurangan tenaga kesehatan, pengobatan susah didapat dan sulitnya mengakses pelayanan kesehatan. UGM sendiri dengan salah satu misinya sebagai universitas perjuangan dan universitas nasional tentu berharap lulusanya termasuk dari FK ini memiliki nilai-nilai tersebut di atas sehingga bersedia ditempatkan dimana saja nantinya apabila bangsa membutuhkan. Akan tetapi dengan kondisi realitas yang seperti itu tentu perlu dipertanyakan lagi kemana semangat kebangsaan dari tenaga kesehatan saat ini. Berikut adalah sedikit refleksi mengenai“Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan” dari tiga pembicara yang luar biasa tersebut:
Yang pertama adalah Prof. Dr.dr sutaryo, Sp.A (K) sebagai Senat Akademik menyampaikan materi mengenai Jati Diri Universitas Gadjah Mada. Beliau memaparkan suatu kilas balik sejarah, yang membuatku mengenal bahwa awal berdirinya UGM ini lekat dengan sejarah perjuangan dan memiliki keterikatan erat dengan fakultas kedokteran. Hal ini karena pertama, pendiri-pendiri awal UGM ternyata adalah individu-individu dengan latar belakang kedokteran yang juga memiliki semangat juang dan kebangsaan yang tinggi. Sebutlah nama Pror. dr. Sardjito yang menjadi rektor pertama UGM beliau adalah seorang dokter, akademisi dan seorang pejuang. Rumah beliau sempat diserang Belanda tiga kali, akan tetapi masa hidupnya beliau selalu produktif. Sempat mendirikan PMI dan RS darurat di Klaten dan mengembangkan media pembuat vaksin. Atau nama Prof.dr. Herman Johannes yang menjadi rektor kedua UGM. Selain seorang dokter beliau juga menguasai cara membuat bom, granat dan mortir yang menyebabkanya menjadi pimpinan pusat perbekalan tentara Indonesia. Juga Prof.dr. Abdurrachman Saleh seorang guru besar Fisiologi Kedokteran yang juga pendiri RRI, komandalan pangkalan udara Madiun dan juga seorang putra dari pendiri Budi Utomo. Tak lupa nama-nama seperti Bung Karno dan Bung Hatta serta Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor awal berdirinya UGM. Disinilah letak nilai UGM sebagai universitas perjuangan.
Yang kedua adalah karena fakultas kedokteran ini termasuk fakultas yang paling awal berdiri di UGM. Selain fakultas hukum ekonomi social politik yang saat itu disebut HESP. Mahasiswa waktu itu sangat dekat dengan rakyat. Mengapa? Karena termasuk yang paling awal berdiri tentu saja sarana dan prasarana sangat terbatas. Kemudian disebabkan adanya kebaikan penguasa rakyat dalam hal ini pihak Kraton maka perkuliahan saat itu dapat dilakukan. Perkuliahan waktu itu menggunakan ruangan-ruangan Kadipaten Ngasem: poliklinik menggunakan kamar kereta, laboratorium bakteriologi menggunakan kamar penjaga, laboratorium kimia menggunakan kamar abdi dalem, ruang kuliah menggunakan pendopo bahkan rumah sakit menggunakan kandang kuda. Tak lupa Kursi, meja, papan tulis dipinjami dari Kraton. Maka tak heran bibit yang dilahirkan dari rahim masyarakat ini kemudian kembali pada masyarakat yang telah membesarkan mereka. Maka dikatakanlah UGM ini sebagai universitas kerakyatan. Lain dengan mahasiswa sekarang yang Alhamdulillah kuliah dari ruang ber-AC satu ke ruang ber-AC lainya dan sudah tidak lagi menggunakan barang pinjaman. Akankah kemudian mereka kembali ingat untuk mengabdi pada masyarakat lagi? Maka itulah pentingnya mengapa sejarah harus disampaikan agar pewaris tidak kehilangan nilai-nilai awal perjuangan para pendiri dan asal-usul mereka.
Selain itu perkuliahan dulu tidak semudah dan seringan sekarang. Mahasiswa kedokteran jaman dulu, kuliah mandar-mandir Yogya-Klaten-Solo sebelum fakultas kedokteran dijadikan satu. Hal ini karena lab zoology masih bertempat di RS Tegalyoso Klaten dan lab Bakteriologi di lab Pasteur Klaten. Sementara kuliah berlangsung pukul 17.00-21.00 dari Senin sampai Jumat. Hal ini dikarenakan setiap pagi sampai siang mereka berlatih perang bahkan berperang. Dengan keprihatinan dan usaha semacam itulah kemudian lahir tenaga-tenaga kesehatan yang militan dan mencintai bangsanya.
Lahirnya UGM ini juga dipicu oleh Belanda yang saat itu mendirikan Universitiet van Indonesie (yang selanjutnya berkembang menjadi UI). Maka bapak-bapak pelopor bangsa ini juga tidak ingin merasa kalah. Mereka merasa bahwa untuk membangun negara diperlukan berbagai macam ilmu, maka diperlukanlah suatu universitas nasional (lahir dari bangsa dan mengedepankan kepentingan nasional) yang kemudian diberi label Gadjah Mada ini. Maka disitulah letak UGM sebagai universitas nasional. Kalau boleh kemudian merangkum kata-kata beliau, UGM ini melalui MWAnya menegaskan jati dirinya sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, univeristas pancasila, universitas kerakyatan dan universitas pusat kebudayaan.
Sesungguhnya materi yang disampaikan beliau sangat menarik karena mengulas tentang flashback sejarah UGM. Dan membuat rasa cinta dengan universitas ini semakin bertambah, apalagi saat menyanyikan hymne nya. Tapi ada satu catatan yang perlu digaris bawahi ialah bahwa sejarah tak lebih dari sekedar romantisme, nilai-nilai yang disebutkan itu kini telah kabur ditelan kapitalisme pendidikan. Ada poin yang kurasa perlu dipertanyakan lagi sekarang. Masihkah kini UGM bisa disebut sebagai universitas kerakyatan? Dimana letak keberpihakanya dengan rakyat? Pada uang masuknya yang jutaan rupiahkah? Ketika sekarang bisa dilihat betapa rakyat kesusahan dan menangis melihat tingginya biaya masuk universitas ini, tidak mampulah kukatakan lagi UGM ini adalah kampus kerakyatan. Sungguh menjadi ironi kemudian karena seminar ini dilakukan di fakultas kedokteran, fakultas yang notabene memiliki ‘nilai jual’ paling tinggi.
Pemateri kedua adalah Pror. DR der Soz. Gumilar Rusliwa Sumantri, beliau adalah Rektor UI yang termasuk juga sebagai salah satu rektor termuda di Indonesia. Waktu awal menjabat sebagai rector, usia beliau saat itu adalah 43 tahun. Sungguh prestasi yang luar biasa. Tentu aku bertanya-tanya, capaian apa yang membuat beliau dipercaya untuk berada di jabatan tersebut dalam usia muda. Sebenarnya saat berdiri di muka beliau tak jauh-jauh dari menyampaikan romantisme sejarah seperti halnya dr. Sutaryo tentang awal mula UI-UGM yang lekat dengan perjuangan Indonesia (UI yang dekat dengan pemerintah Belanda dan Orde Baru serta UGM yang dekat dengan bapak pendiri bangsanya, hingga kultur yang diturunkan sekarang di masing-masing universitas). Cuma bedanya, disitu aku merasakan semangat kebangsaan sampai terharu-biru. Aku bertanya-tanya barangkali beliau ini waktu mudanya adalah seorang demonstran atau aktivis. Kulihat beliau adalah orator yang hebat dengan kata-kata yang dalam, bermakna dan menyentuh hati meskipun suaranya tidak keras dan lantang. Salah satu penggalan kalimat yang kuingat adalah: “Hanya dengan mengenal sejarahlah kita dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa ini”.
Terkait dengan tema kali itu beliau sedikit menyinggung mengenai Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan. Dalam penilaian beliau, peran perguruan tinggi terhadap masyarakat terletak pada konstribusi universitas itu terhadap tegaknya civilization society atau peradaban mayarakat. Dan itu dapat diwujudkan melalui research yang dimanfaatkan untuk membangun masyarakat. Jika direnungkan, tidak mungkin penelitian di Indonesia dengan pembiayaan ratusan juta rupiah bisa menandingi penelitian-penelitian bangsa lain di luar negri seperti Amerika contohnya yang mengalokasikan biaya triliunan dolar untuk mengembangkan research dalam ilmu kedokteran. Akan tetapi ‘chance’ itu masih ada, yaitu terletak pada : nutrisi, herbal dan infeksius disease. Terkait nutrisi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hal tersebut merupakan modal dasar untuk pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang baik. Masih banyaknya gizi buruk di Indonesialah yang menyebabkan kualitas SDM kita tidak siap tanding. Selain itu berkembang pula berbagai penelitian nutrisi klinis juga zat dari nutrisi untuk intervensi terhadap penyakit khusus. Begitu juga dengan herbal yang beranjak dari local wisdom Indonesia. Kesempatan itu terletak dari kekayaan biodiversitas bangsa ini akan tumbuhan sebagai obat (Aku jadi teringat ekstrak Phaleria Macrocarpa/ daun mahkota dewa yang ternyata diteliti dan dipatenkan orang luar negri sebagai obat kanker). Juga tentang infeksius disease yang banyak berkembang di Indonesia. Terutama lagi karena Indonesia ini terletak di daerah tropis dimana penyakit infeksi mudah berkembang. Dan kalau boleh aku menambahi, bangsa ini lebih dominan orang miskin dimana kecenderungan penyakit pada kaum papa adalah penyakit infeksi.
Dan begitulah sedikit yang ia sampaikan. Akan tetapi dari situ kulihat keluasan berpikir dan banyaknya ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Jarang kutemui orang social yang memahami dengan dalam dan tepat permasalahan kesehatan. Bahkan mulanya kupikir beliau juga berbasic dari kedokteran, tetapi nyatanya beliau adalah seorang lulusan sospol. Tepatlah jika kukatakan beliau ini memang layak untuk posisi tersebut juga membuatku merasa beruntung datang di seminar tersebut sehingga bisa bertemu seorang intelektual seperti Pak Gumilar ini.
Dan yang terakhir adalah materi dari dr. Prijo Sidipratomo sebagai Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terpilih menggantikan dr. Fachmi Idris (Ketua IDI saat ini) yang seharusnya mengisi seminar kali itu. Beliau menyampaikan materi bertajuk ’Dokter untuk Bangsa’ yang secara umum adalah gambaran umum realitas yang akan dimasuki seorang dokter ataupun tenaga kesehatan nantinya ketika lulus dari sekolah kedokteranya. Kalau boleh menambahi, tentu saja diharapkan tenaga kesehatan ini nantinya tidak hanya pandai mendiagnosa dan memberi obat akan tetapi juga peka dan sensitif terhadap fakta social bangsa ini. Sehingga tidak melihat pasien/ masyarakat sebagai obyek tapi realitas social yang perlu juga didekati secara menyeluruh (otak, hati dan sistem).
Beliau memulainya dengan memaparkan kondisi kesehatan Indonesia saat ini. Dimana angka kematian bayi di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN (4,6 x lebih tinggi dari Malaisya; 1,3 x lebih tinggi dari Filipina dan 1,3 x lebih tinggi dari Thailand). Padahal angka kematian bayi dan angka kematian ibu adalah indikator utama dalam menilai kualitas pembangunan kesehatan suatu bangsa. Dan kebanyakan kejadian terjadi di daerah-daerah. Dari preliminary SDKI 2007 angka IMR/infant Mortality Rate tertinggi di daerah Sulbar, Maluku dan NTB sementara paling rendah di DIY. Untuk tataran internasional pun tingkat IMR Indonesia tahun 2009 berada pada posisi 87 di antara negara-negara United Nation, Indonesia ada di bawah Suriname untuk kategori ini.
Tidak beda jauh untuk angka kematian ibu melahirkan yang menurut survey World Bank tahun 2008 ini meningkat menjadi 420/100 ribu ibu melahirkan. Sehingga dikhawatirkan MDGs (Millinium Development Goals) untuk tahun 2015 tidak dapat tercapai dimana pemerintah menargetkan pencapaian 125/100 ribu ibu melahirkan. Hal ini dikarenakan ketidakseriusan pemerintah yang masih mengalokasikan dana APBN atau APBD di bawah 1% untuk menangani masalah ini. Aku pernah tertawa sekaligus kecewa ketika melihat debat capres di salah satu tv swasta. Disitu terlihat bagaimana salah satu calon presiden kita ini yang ternyata tidak memahami besarnya masalah kesehatan dan dampak apa yang dapat ditimbulkanya. Sungguh suatu keprihatinan yang mendalam.
Sementara angka kekurangan gizi pada balita ini masih jauh dari yang ditargetkan pemerintah. Padahal dampak gizi kesehatan ini akan mempengaruhi SDM Indonesia. Tumbuh kembang yang tidak optimal akan membuat gangguan pertumbuhan permanen yang tidak terpulihkan sehingga menyebabkan SDM rendah. SDM rendah ini nantinya akan menjadi beban di masyarakat. Maka tidak heran jika Human Development Index/ Indeks Pembangunan Manusia dari 108 turun menjadi juara ke 110. Negara kita saat ini belum mampu membangun bibit-bibit unggul, terbukti lebih dari 50% anak Indosesia sakit-sakitan dan tidak bergizi baik. Ini adalah hal yang perlu difahami pemerintah bahwa investasi kesehatan dan investasi pendidikanlah yang dapat melahirkan generasi berdaya saing. Jika fondasi kita rapuh tidak akan lahir manusia-manusia Indonesia yang kuat yang dapat membangun dan memelihara negara ini sebagai generasi yang maju.
Dipaparkan juga data mengenai penyakit menular. Dalam hal ini HIV terus meningkat di Indonesia. Juga Posisi Indonesia sebagi negara nomer 3 terbesar di dunia dalam hal jumlah populasi penderita TB(Tuberculosis). Akan tetapi disisi lain kita juga memiliki sekelompok masyarakat yang dapat menghabiskan triliunan rupiah untuk berobat ke luar negri. Serta tuntutan dunia kedokteran yang terus dialiri deras akan kemajuan teknologi.
Lalu bagaimana kondisi dokter di negara ini? Indonesia saat ini dihadapkan pada kondisi kekurangan dokter akan tetapi dihadapkan pula dengan problema mahalnya sekolah kedokteran. Mahalnya sekolah kedokteran ini dikhawatirkan akan berdampak pada prinsip return of investment dari lulusanya. (Menurut Hippokrates seorang dokter hanya diperbolehkan mengambil biaya 5x dari harga bahan pokok dan seorang dokter spesialis hanya diperbolehkan 3x lipatnya dokter umum. OLeh karena itu bila harga beras saat ini Rp 5.000, maka bayaran dokter umum kurang lebih Rp 25.000 dan dokter spesialis sebesar 75.000). Dari perhitungan, diperlukan waktu hampir 10 tahun lagi untuk memenuhi kebutuhan dokter umum di Indonesia dan 35-50 tahun lagi untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis. Sementara jumlah yang belum memadai tersebut tidak disertai pemerataan yang baik. Kondisi dokter kita saat ini lebih terpusat di Jawa, DKI contohnya, dan semakin sedikit di daerah-daerah seperti Gorontalo dan Maluku utara. Tetapi hal ini juga disebabkan karena mayoritas penduduk Indonesia juga terkonsentrasi di pulau Jawa. Akan tetapi itu bukan menjadi suatu alasan kemudian apabila ada suatu provinsi di Indonesia yang kekurangan tenaga medis.
Persoalan jumlah penduduk miskin kemudian menjadi masalah tersendiri. Kalau boleh menambahi, jika dikatakan kemiskinan di Indonesia turun 8% maka perlu dipertanyakan lagi. Apakah yang digunakan adalah pengeluaran keluarga di atas angka Rp 182.636 per orang perbulan? Apakah termasuk didalamnya BLT? Kalau memang begitu, kurasa tak ubahnya seorang penderita hipertensi yang dikatakan memiliki tekanan darah normal 120/80 mmHg tetapi sedang mengkonsumsi obat penurun tekanan darah. Apabila obat tidak diminum, ya hipertensinya muncul lagi. Kemiskinan saat ini ibarat penyakit persisten masyarakat yang sudah tidak bisa lagi disembuhkan dengan minum berbagai macam obat-dengan berbagai macam karitas.
Nah, yang juga penting diketahui adalah anatomi budget keuangan kita. Ternyata Depkes ini mendapat prioritas nomer 6 di bawah Depdiknas, Dep PU, Dephan, Depag dan Polri. Dari APBN 2009 yang mencapai Rp 1.037,1 triliun ini, anggaran kesehatan hanya 20,3 triliun. Yaitu hanya sebesasr 2% dari APBN. Walaupun idealnya menurut WHO, alokasi untuk pembiayaan kesehatan sebesar 20%. Jumlah anggaran kesehatan yang kecil menunjukan bahwa bidang kesehatan belum dianggap hal yang penting. Menariknya dr. Sidi ini sangat memahami keterkaitan segala bidang termasuk kesehatan dengan politik. Kata beliau kurang lebih seperti ini ”Yang akan menentukan nasib bangsa ini besok adalah siapa pemimpinya. Dan siapapun itu presidenya ia haruslah orang yang memiliki perhatian terhadap kesehatan. Tanpa dana yang mencukupi non-sense untuk menyediakan layanan dan pembangunan kesehatan yang baik. Dan siapapun presidenya ia juga harus menempatkan orang yang ahli di bidangnya”.
Sebagai penutup kukatakan bahwa yang membuatku lega adalah ternyata orang-orang di atas, para stake holder kesehatan (akademisi maupun praktisi) ternyata masih idealis untuk memegang prinsip untuk mengabdi pada bangsa dan berpihak pada rakyat (walaupun jika dalam pelaksanaanya terdapat penyimpangan itu masalah lain). Padahal sebelumnya kukira mereka buta dengan kondisi bangsa saat ini. Yang kugarisbwahi terutama adalah ada kesamaan keprihatinan terkait sekolah kedokteran yang mahal (sebuah otokritik). Dan tentu aku mengapresiasi munculnya ide untuk mendudukan menteri kesehatan dan menteri pendidikan bersama-sama sebagai solusi atas masalah ini. Yah harapanku semoga itu tidak hanya ide yang muncul lalu hilang menjadi asap, tapi semoga dapat direalisasikan segera. Sungguh pengurus besar IDI ini tidak salah memilih dr. Sidipratomo sebagai ketua yang baru, karena selain visioner beliau ini juga orang yang idealis. Tak kalah hebat dengan dr. Siti Fadhilah Supari, Menteri Kesehatan saat ini. Kalau boleh kukatakan mereka ini the right man in the right place. Kalau pak Bambang Sudibyo mungkin the right man in the right place but in the wrong situation.
Terakhir suatu pesan singkat tetapi menghujam dalam hati dari Prof.dr. Sunarto seorang dokter senior yang banyak berperan di FK ini “Menjadi pintar itu memang penting tetapi memiliki etika itu lebih penting”kurang lebih begitu.
Viva Medica !!!
wuih,,, panjang bener luk postingannya,, ndak sempat baca semua…
Tapi,, keren cara penyampaiannya…
dan,,,, mari kita jadi tenaga kesehatan berwawasan kebangsaan,,,semangat!!