Mungkin kita kerap kali mendapati teori-teori bagaimana caranya memprioritaskan agenda. Tetapi kenyataanya terkadang kita kebingungan ketika dihadapkan 2 atau 3 acara sekaligus pada satu waktu. Ketika tidak berhasil memprioritaskan acara tersebut dengan baik maka hasilnya kita terpaksa mengorbankan suatu acara dan tak jarang bahkan korban perasaan.
Andaikata kita mati-matian menyempatkan/ menyediakan waktu untuk menghadiri suatu kegiatan tetapi disana kita temui hanya segilintir saja partisipan/ undangan, tentu saja ada rasa kecewa yang akan menyusup di hati. Hal ini bisa dimungkinkan karena orang-orang tersebut gagal membuat prioritas. Atau bisa juga apa yang kita pandang sebagai suatu prioritas yang penting, belum tentu sama ketika dilihat dari perspektif orang lain. Apalagi bagi aktivis, hal semacam ini seringkali kita alami: jadwal syuro’, jadwal kuliah, jadwal training dan acara sebagainya dalam satu waktu. Tidak hanya bagi aktivis, sebagai manusia biasa pun kemampuan untuk memprioritaskan agenda dengan baik, akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini sedikit tips dari pengalaman hidupku, mungkin tidak berdasarkan dari teori manapun, tapi semoga bisa bermanfaat:
Satu, tingkat urgensi dan waktu. Urgensi tidak bisa dipisahkan dari waktu, begitu pula sebaliknya. Ada 4 tipe hubungan urgensi dengan waktu : agenda yang penting dan mendesak, agenda yang tidak penting tetapi mendesak, agenda yang penting dan tidak mendesak dan agenda yang tidak penting dan tidak mendesak. Ketika ada beberapa acara yang berbenturan, kemampuan untuk memilah tingkat keurgensian dan kemendesakan suatu acara ini penting untuk dapat memprioritaskan suatu agenda dengan baik.
Untuk urgensi ini, saya ada pembahasan khusus. Sedikit bercerita tentang pengalaman saya di semester awal kuliah, ketika berinteraksi dengan teman-teman dari di fakultas lain. Dulu, saya beranggapan kuliah adalah prioritas yang paling penting. Rapat, training ataupun agenda apapun lainya tidak dapat mengalahkanya. Kalau teman-teman dari fakultas lain bersedia absen hanya untuk menghadiri acara tersebut, saya tidak. Bagi saya (jaman dulu) kuliah teman-teman dari fakultas lain remeh temeh, tidak sebanding dengan kuliah di fakultas kedokteran yang berat dan ‘penting’. Hal itu terjadi hanya karena saya terbiasa terdoktrinasi dengan keeklusifan FK yang identik dengan kuliah padat, praktikum banyak, buku tebal. Tetapi benarkah begitu? Parameter apa yang membuat kita dapat mengatakan ‘berat’ itu benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin apa yang kita sebut ‘berat’ itu, sebenarnya tidak benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin justru orang lain yang kuliahnya benar-benar ‘berat’ tetapi tidak pernah merasakan hal tersebut? Sama halnya ketika kita mengatakan bumi ini sangat besar ketika kita berdiri di permukaanya. Tetapi dengan cepat kita akan mengatakanya bumi ini sangat kecil ketika sudah dibandingkan dengan matahari. Begitulah yang kudapati seiring proses perjalananku.
Terkadang permasalahan yang kita anggap besar, tidak benar-benar besar sampai kita berani mencoba untuk membuktikan apakah yang besar itu benar-benar besar ataukah sebenarnya kecil dengan membandingkanya dengan hal lain. Dan satu lagi, berhenti menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Terkadang kita membutuhkan sudut pandang lain atau bahkan lebih dari satu sudut pandang untuk menilai sesuatu. Karena menilai dari satu sisi saja akan sangat terkait dengan ego. Terkadang agenda yang kita pilih untuk kita lakukan adalah hal yang sepele saja, tetapi kita membuatnya seakan-akan hal itu adalah peristiwa besar hanya karena ego. Ego untuk dihargai, ego untuk dikatakan penting, ego untuk pengakuan atau ego lainya. Dan ego ini sangat erat dengan usia muda.
Dua, rutinitas atau kejadian luar biasa. Acara-acara penting, akan tetapi berupa rutinitas, biasanya tersingkir dengan acara yang bukan rutinitas yang hanya dapat terjadi suatu masa sekali bahkan seumur hidup sekali, mungkin itulah yang saya maksudkan dengan kejadian luar biasa. Pernikahan, kelahiran, kematian yang mungkin terjadi sekali seumur hidup tentu saja akan menjadi prioritas yang lebih penting daripada sekadar mendahulukan kuliah yang merupakan rutinitas. Atau mengambil contoh mudik ketika masa lebaran yang hanya terjadi satu tahun sekali. Walaupun sekedar perjalanan pulang tapi tidak seorang pun ingin menggantinya di bulan lain meskipun dengan biaya yang murah. Karena mungkin hal tersebut bisa dikatakan ‘bukan suatu rutinitas atau kejadian luar biasa’.
Tiga, fleksibilitas. Meskipun kita mendapati kedua acara yang sama-sama penting, kita bisa mengundurkan acara yang fleksibilitasnya lebih tinggi. Fleksibilitas tinggi yang saya maksudkan disini ialah suatu acara yang dimana kita dapat mengganti kehadiran kita dengan orang lain, atau kita menggantinya/reschedule pada kesempatan lain, atau kita dapat mengkompensasinya dengan hal lain atau mungkin kita bisa berhubungan/berkomunikasi tanpa menuntut kehadiran kita disana(seperti dengan email misalnya), tidak begitu masalah jika tidak diprioritaskan.
Empat, individu atau orang banyak. Hal-hal yang terkait individu/ hanya butuh diri sendiri untuk menyelesaikanya, lebih mudah dilakukan daripada berurusan dengan orang banyak. Orang mudah saja lari atau mengabaikan orang lain dan mementingkan diri sendiri/ egoism tanpa memikirkan orang lain. Tapi apakah pernah kemudian kita berfikir sebaliknya? Bagaimana perasaan kita apabila kita menjadi korban keegoisan orang lain? Mungkin itulah yang perlu dipikirkan ketika kita akan meninggalkan acara dimana banyak orang lain akan menjadi korban.
Bertemu dosen yang hanya dapat ditemui seminggu sekali jelas penting, apalagi berkonsultasi skripsi sebagai syarat kelulusan setiap mahasiswa yang kuliah, tentu sangat penting. Tetapi saya lebih memilih untuk sekadar berjalan-jalan berkeliling kampus dan ngobrol tidak penting saat OSPEK hanya karena saya bertanggung jawab kepada lebih banyak orang dan bukan hanya urusan pribadi.
Lima, Value. Bisa kita artikan sebagai nilai, ruh, tidak sekedar wujud fisik keberadaan sekumpulan tulang yang dibungkus kulit dalam suatu tempat dalam suatu waktu.
Reuni SMA misalnya, hanya urusan berkumpul, tertawa dan bercerita. Tetapi ada suatu rasa berat ketika meninggalkanya karena disana ada suatu value dari 3 tahun yang tidak tergantikan.
Makan, mungkin hanya masalah mengisi perut. Tetapi ketika dirangkaikan menjadi suatu kata’makan malam bersama’ tidak lagi urusan mengisi perut. Walaupun bukan perkara penting dan mendesak, bisa jadi suatu hal yang selalu kita lakukan, bisa jadi fleksibilitasnya tinggi, bisa jadi hanya melibatkan satu individu saja bukan banyak orang, tetapi ketika kita tidak datang, bukan hanya lapar yang kita rasakan tapi ada juga rasa kecewa, tidak enak, sedih, beban moral dan lain-lainya. Karena di situ ada suatu ‘nilai’ tersendiri.
Enam, fifty-fifty atau all-or-none. Kalau disuruh memilih: menghadiri setengah-setengah (fifty-fifty) ataukah meninggalkan yang satu sama sekali dan menghadiri yang lain tetapi full sejak awal sampai akhir, saya biasanya akan memilih yang kedua. KENAPA? Fifty-fifty kedengaranya solusi yang cukup bagus, solusi jalan tengah. Tetapi kenyataanya sangat sulit mengaplikasikanya, karena selain tidak focus pada suatu acara, kita akan mengecewakan kedua belah pihak. Berbeda pada all-or-none. Tetapi ada catatan ketika kita memilih all-or-none (ya atau tidak sama sekali), agenda tersebut (yang akan kita tinggalkan) harus memiliki fleksibilitas yang tinggi dan value yang tidak begitu tinggi. Dengan begitu kita bisa menggantinya dikesempatan lain atau disiasati dengan cara lain. Meskipun tidak selalu begitu, terkadang fifty-fifty bisa menjadi solusi yang terbaik, tergantung kebutuhan.