Feeds:
Posts
Comments

Kemana Semangat Itu?

Kemana semangat itu ya? Aku  sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa yang salah sebenarnya? kenapa begitu futur. Cita-cita yang begitu tinggi dan rasa cinta itu? Hmm kini terasa begitu hambar …

Sudah tiga minggu belakangan ini aku futur. Futur penelitian. Semangat yang biasanya, kini begitu saja menguap. Padahal tinggal menghitung hari saja aku akan segera meninggalkan bangsal A dan B. Seharunya aku sedih, tapi dalam lubuk hati terdalamkuy justru aku senang, lega dan bersyukur. Kenapa ya?

Ketika kubaca postingan lamaku : http://lulukria.wordpress.com/2009/06/28/perjuangan-demi-menyebrang-sebuah-jalan-i/ kusadari pekerjaan ini adalah the thing most i wanted in the world now, suatu hal yang amat sangat kuingini. Kalau ditanya setelah jadi ahli gizi mau kemana: di masyarakat dan puskesamas, di perusahan dan di klinik dan rumah sakit. Tentu saja aku tidak perlu berpikir lebih dari satu detik.  Pun kalau ada modal aku menginginkan rumah sakit sendiri (sayangnya tidak… ). Segala pernak-pernik di rumah sakit begitu kusukai. Tantangan menghadapi orang yang sedang mempertaruhkan hidupnya, kompilasi multidisiplin ilmu dan multiprofesi, sampai bagian-bagianya, apa saja-apa saja. Sesuai dengan idealisme ku. Tapi kemana semangat itu?

Belakangan ini aku menjadi orang yang begitu tidak bertanggung jawab. Datang ke RS pun kadang tidak kulakukan, kalau datangpun hanya di instalasi gizi, kalau sudah ke buku registerpun tidak masuk ke ruangan, kalau ke ruanganpun wawancara asal cepat, itupun hanya mengambil pasien satu-dua. Padahal aku tahu semuanya butuh skrinning. Ah, kenapa begitu futur? Apa yang salah?

Memang teman-teman penelitianku beberapa sudah tidak ada. Apa mungkin aku kesepian? Kesepian intelektual. Kesepian teman untuk berbagi ide dan berdiskusi. Tapi setelah kupikir-pikir, ternyata bukan itu alasanya. Dulupun sebelum hari raya, di saat semua orang sibuk mudik, di saat di lorong-lorong bangsal benar-benar hanya angin lewat saja, kakiku tetap begitu setia melangkahkan kaki untuk sekedar menjenguk. Bahkan sampai hari H-1 syawal aku masih setia. Entah kemana perasaan itu?

Memang benar, segala sesuatu hanya tergantung niat. Hanya dengan niat hal yang mustahil pun jadi kenyataan. Niat punya kekuatan untuk menggerakan secara luar biasa. Dan ketika niat itu hilang, hilang pula lah energi itu. Seperti padang pasier kekeringan…

Aku sendiri pun tidak mengerti kemana semangat itu. Sudah  2 bulan lebih sejak 1 minggu sebelum puasa aku memulai penelitian, sudah wajar saja aku terlalu letih. Yang kusimpulkan mungkin aku telah mencapai titik jenuhku. Mungkin memang perlu berhenti sejenak untuk kemudian bisa melanjutkan. Mungkin perlu menjauh sejenak sehingga bisa merindukan nikmatnya lagi.

Well, aku berharap semangat itu segera kembali…

Just A Story

Everyone need love.
He says  “you will be happy everywhere you go. You can be what you want to be. Everywhere you go, Just be happy.”
I don’t wanna hear that. My heart tortures a lot
I say “How can I be happy when my love is not around? Life is not live where there is no love.”
I almost cry.
Love is still love. It lies deep in our heart. But I can’t be by your side anymore
“No! No, you won’t”
I start to cry…
I ask “Why? Why? Why it’s always me? Why must am I be alone?”
I cry louder.
You are not alone. There’s always me there inside your heart. Remember?”
“But why do I feel so lonely? It never be the same without you. I’m not gonna make it. A life without you is not a real life”
I believe you can. You are gonna make it. You can be a strong girl.”
No, I don’t wanna be a strong girl. All I want is you. That you always by my side…..

There is no more answer. But reality makes it clear. When I open my eyes. I found that life just has stopped. That you leave me alone though I don’t want it happened. What you’ve said become true. Because there’s no choice for me. You don’t give me a chance to make a choice.
You are still always in my heart, deep inside my heart
Am I strong now?
I don’t know
But I often cry a lot.
Am I happy now?
Yes, I am happy. Or sometimes pretending to be happy.
Like what I’ve said ‘it never be the same without you’
But when I found a real happiness
I know it because time goes on

Perlahan seorang gadis mendekati sebuah cermin. Bingkainya indah tetapi isinya kosong, gelap. Besar dan berdiri tegak. Dia berdiri di depanya. Tetapi bukan bayanganya yang didapatinya. Sosok lain dirinya, di hatinya. Disitu ia temukan, seorang anak berusia 14 tahun. Pandanganya kosong. Just stuck there crying and without words. Ya, di umur itulah hidup ku berhenti. Ketika seorang yang paling kucintai meninggalkanku. Perpisahan selalu berat adanya.
Cermin adalah hati. Kegelapan adalah masa lalu.
Ketika aku merasa sedih, ketika aku merasa sendiri, terkadang aku berpaling dari kehidupan,,
Perlahan aku mendekati sebuah bingkai, menemui gadis di balik cermin.

She says “The thing that I hate most is…
Being alone…”

Kalau orang Jawa punya ‘Tresno jalaran kulino’, agama pun punya filosofi seperti harta; keturunan; kecantikan dan agama-dalam memilih pasangan hidup. Buku-buku pop sekarang ini juga ribuan postingan di blog dengan tema serupa bertebaran di jagat internet. Banyak dari mereka melihat dari sisi filosofis, romantisme, agama, dan lebih banyak lagi yang sekedar mengungkapkan perasaan masing-masing penulisnya. Tetapi penemuanku ini agak lain, yaitu kajian dari segi ilmiah melalui sudut pandang ilmu psikiatri (‘Psike’berarti jiwa. Sementara ‘psikiatri’ berarti spesialisasi/cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penyakit jiwa. Perbedaan psikiater dan psikolog-sejauh yang aku tahu, terutama adalah dalam meresepkan obat, psikiater diijinkan dan psikolog tidak.)

Di buku yang berjudul ‘Islam, Etika dan Kesehatan’ itu di dalamnya ada bab mengenai ‘Kesehatan Keluarga : Probema Perkawinan dari Aspek Psikiatri’ dibahas oleh dr. Prayitno Siswowiyoto yang kebetulan saja kutemukan. Berikut hal-hal yang sedikit menarik untuk dibagi dan sedikit tambahan dariku:

Dokter tersebut menuliskan: banyak hal-hal yang mempengaruhi keharmonisan keluarga, salah satunya faktor kecocokan. Kecocokan kepribadian antara suami dan istri ini mempunyai peranan penting dalam menentukan perkembangan kejiwaan anak terutama, dan pasangan. Pertentangan yang terus menerus dalam keluarga akan menimbulkan kegelisahan, ketegangan dan rasa tidak aman. Ada beberapa tipe problema psikiatrik dalam keluarga:

1. Chronio Dependency (ketergantungan yang terus menerus)

Pria atau wanita yang mempunyai sifat sangat bergantung pada pasanganya, biasanya hanya menuntut cinta dari patnernya tanpa dapat memberi kecintaan yang wajar. Jika ia dapat menikah dengan pasangan yang bersifat seperti orang tua, mungkin pernikahan dapat dipertahankan walaupun tidak normal (apparent child balance). Seperti seorang pemabuk yang dapat istri keibuan atau yang lebih banyak, seorang wanita yang kekanak-kanakan mendapat suami yang kebapak-bapakan. Tetapi jika keduanya mempunyai sifat ketergantungan yang sama (sama-sama tidak dewasa, sama-sama kekanak-kanakan), mereka akan sering menghadapi konflik dan perpecahan yang akhirnya berpisah.

Di referensi lain yang pernah kutemui, pada usia fisiologis yang sama, sebenarnya laki-laki memiliki kematangan psikologis jauh di bawah wanita. Ini terbukti misalnya ketika wanita memasuki tahap adolescent awal dimana telah mampu ber-reproduksi, ia akan segera dapat mengambil peran sebagai ibu. Sementara laki-laki di usia tersebut masih sibuk bermain game dengan teman laki-laki sebaya-nya. Oleh karena itu kadang pernah kita dengar ada baiknya pasangan mengambil jarak: wanita dengan laki-laki tiga tahun lebih tua atau sebaliknya. (Meskipun menurutku sebenarnya, tidak selalu dapat dipukul rata seperti itu)

2. Narcisistic Marriage (Cinta diri yang berlebihan)

Tipe orang ini biasanya lebih suka mencari-cari pujian dari orang lain dibandingkan membagi/ memberikan kasih sayang. Dalam perkawinan, jika suami/istri dianggap kurang memuji atau mengaguminya, dia akan menuduh yang bukan-bukan. Mungkin hampir mirip-mirip sitkom SSTI (Suami-suami Takut Istri) di salah satu TV swasta.

3. Prolonged Family Rivalriese (Persaingan dengan pihak mertua)

Perasaan fiksasi kepada orang tua yang terus menerus dibawa dalam kehidupan pernikahan akan menimbulkan perasaan ambivalent (perasaan mendua) antara orang tua dan patner. Kemungkinan akibatnya adalah terjadi ‘Housekeeper marriage’(istri sebagai pembantu) karena suami yang sangat terikat dengan ibunya akan sedikit sekali memberikan perhatian pada istrinya (jadi ingat cerita Manohara…).

Kemungkinan hal semacam ini bisa terjadi pada keluarga patrilineal, dimana laki-laki amat diutamakan. Tapi bisa juga terjadi di luar itu.

4. Chronic Hostile Dependency (ketergantungan yang disertai sikap permusuhan)

Pria/wanita yang karena perasaan marah dan permusuhan sejak masa kanak-kanak terus dibawa dalam kehidupan dewasa, dalam pernikahanya, dia akan bertindak sadistis. Pernikahan semacam ini bisa terus dipertahankan kalau ia mendapatkan istri/suami yang masechistik (sademasochistic balance). Mungkin disini perlunya pertimbangan melihat akhlak seseorang kepada keluarganya (ayah/ibu/saudara).

5. Role Reversal (peran terbalik)

Kalau boleh agak bercanda, mungkin tipe ini yang paling disukai wanita jaman sekarang, apalagi aktivis gender: “Bapak, tolong ya cucian piring dan gelas, setrikaan baju, masakan di dapur, gunting taman, nyapu halaman, nyuapin anak, daftar belanja-nya … diselesaikan, ibu mau baca Koran dulu,,,”

Atau dengan kata lain peranan suami-istri yang terbalik. Tetapi ternyata menurut dokter tersebut, tipe semacam ini justru sering terjadi di kalangan mahasiswa yang menikah dengan wanita yang pandai mencari nafkah dan bertindak sebagai kepala keluarga. Model seperti ini pun tampaknya dianut tetangga sebelah rumahku, bahkan seorang ustadz yang pernah kujumpai pun memiliki tipe keluarga seperti ini.

6. Etc.

Masih ada tipe lainya problema psikiatrik dalam keluarga, tetapi rasanya tidak perlu kujabarkan lebih banyak.

Sebagai penutup : pikiran yang panjang dan psikologis yang dewasa amat diperlukan dalam mengambil keputusan dari setiap langkah kehidupan kita. Kadang kita hidup tetapi tidak siap untuk dewasa. Kadang kita siap untuk dewasa tetapi tidak siap untuk jatuh cinta. Kadang kita siap jatuh cinta tetapi tidak siap untuk patah hati, atau mungkin kita siap jatuh cinta tetapi tidak siap untuk menikah. Kadang kita siap untuk menikah tetapi tidak siap memiliki keluarga. Kadang kita siap berkeluarga tetapi tidak siap bertanggung jawab, dst. Manusia bisa berencana, berkeinginan tetapi akhirnya, tetap yang di atas yang menentukan. Kita mengira apa-apa yang kita ingini adalah hal yang terbaik bagi kita, sementara apa-apa yang tidak kita sukai adalah hal yang buruk bagi kita, padahal Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hambanya.

*) Khusus buat yang hampir menikah saja

Mungkin kita kerap kali mendapati teori-teori bagaimana caranya memprioritaskan agenda. Tetapi kenyataanya terkadang kita kebingungan ketika dihadapkan 2 atau 3 acara sekaligus pada satu waktu. Ketika tidak berhasil memprioritaskan acara tersebut dengan baik maka hasilnya kita terpaksa mengorbankan suatu acara dan tak jarang bahkan korban perasaan.

Andaikata kita mati-matian menyempatkan/ menyediakan waktu untuk menghadiri suatu kegiatan tetapi disana kita temui hanya segilintir saja partisipan/ undangan, tentu saja ada rasa kecewa yang akan menyusup di hati. Hal ini bisa dimungkinkan karena orang-orang tersebut gagal membuat prioritas. Atau bisa juga apa yang kita pandang sebagai suatu prioritas yang penting, belum tentu sama ketika dilihat dari perspektif orang lain. Apalagi bagi aktivis, hal semacam ini seringkali kita alami: jadwal syuro’, jadwal kuliah, jadwal training dan acara sebagainya dalam satu waktu. Tidak hanya bagi aktivis, sebagai manusia biasa pun kemampuan untuk memprioritaskan agenda dengan baik, akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini sedikit tips dari pengalaman hidupku, mungkin tidak berdasarkan dari teori manapun, tapi semoga bisa bermanfaat:

Satu, tingkat urgensi dan waktu. Urgensi tidak bisa dipisahkan dari waktu, begitu pula sebaliknya. Ada 4 tipe hubungan urgensi dengan waktu : agenda yang penting dan mendesak, agenda yang tidak penting tetapi mendesak, agenda yang penting dan tidak mendesak dan agenda yang tidak penting dan tidak mendesak. Ketika ada beberapa acara yang berbenturan, kemampuan untuk memilah tingkat keurgensian dan kemendesakan suatu acara ini penting untuk dapat memprioritaskan suatu agenda dengan baik.

Untuk urgensi ini, saya ada pembahasan khusus. Sedikit bercerita tentang pengalaman saya di semester awal kuliah, ketika berinteraksi dengan teman-teman dari di fakultas lain. Dulu, saya beranggapan kuliah adalah prioritas yang paling penting. Rapat, training ataupun agenda apapun lainya tidak dapat mengalahkanya. Kalau teman-teman dari fakultas lain bersedia absen hanya untuk menghadiri acara tersebut, saya tidak. Bagi saya (jaman dulu) kuliah teman-teman dari fakultas lain remeh temeh, tidak sebanding dengan kuliah di fakultas kedokteran yang berat dan ‘penting’. Hal itu terjadi hanya karena saya terbiasa terdoktrinasi dengan keeklusifan FK yang identik dengan kuliah padat, praktikum banyak, buku tebal. Tetapi benarkah begitu? Parameter apa yang membuat kita dapat mengatakan ‘berat’ itu benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin apa yang kita sebut ‘berat’ itu, sebenarnya tidak benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin justru orang lain yang kuliahnya benar-benar ‘berat’ tetapi tidak pernah merasakan hal tersebut? Sama halnya ketika kita mengatakan bumi ini sangat besar ketika kita berdiri di permukaanya. Tetapi dengan cepat kita akan mengatakanya bumi ini sangat kecil ketika sudah dibandingkan dengan matahari. Begitulah yang kudapati seiring proses perjalananku.

Terkadang permasalahan yang kita anggap besar, tidak benar-benar besar sampai kita berani mencoba untuk membuktikan apakah yang besar itu benar-benar besar ataukah sebenarnya kecil dengan membandingkanya dengan hal lain. Dan satu lagi, berhenti menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Terkadang kita membutuhkan sudut pandang lain atau bahkan lebih dari satu sudut pandang untuk menilai sesuatu. Karena menilai dari satu sisi saja akan sangat terkait dengan ego. Terkadang agenda yang kita pilih untuk kita lakukan adalah hal yang sepele saja, tetapi kita membuatnya seakan-akan hal itu adalah peristiwa besar hanya karena ego. Ego untuk dihargai, ego untuk dikatakan penting, ego untuk pengakuan atau ego lainya. Dan ego ini sangat erat dengan usia muda.

Dua, rutinitas atau kejadian luar biasa. Acara-acara penting, akan tetapi berupa rutinitas, biasanya tersingkir dengan acara yang bukan rutinitas yang hanya dapat terjadi suatu masa sekali bahkan seumur hidup sekali, mungkin itulah yang saya maksudkan dengan kejadian luar biasa. Pernikahan, kelahiran, kematian yang mungkin terjadi sekali seumur hidup tentu saja akan menjadi prioritas yang lebih penting daripada sekadar mendahulukan kuliah yang merupakan rutinitas. Atau mengambil contoh mudik ketika masa lebaran yang hanya terjadi satu tahun sekali. Walaupun sekedar perjalanan pulang tapi tidak seorang pun ingin menggantinya di bulan lain meskipun dengan biaya yang murah. Karena mungkin hal tersebut bisa dikatakan ‘bukan suatu rutinitas atau kejadian luar  biasa’.

Tiga, fleksibilitas. Meskipun kita mendapati kedua acara yang sama-sama penting, kita bisa mengundurkan acara yang fleksibilitasnya lebih tinggi. Fleksibilitas tinggi yang saya maksudkan disini ialah suatu acara yang dimana kita dapat mengganti kehadiran kita dengan orang lain, atau kita menggantinya/reschedule pada kesempatan lain, atau kita dapat mengkompensasinya dengan hal lain atau mungkin kita bisa berhubungan/berkomunikasi tanpa menuntut kehadiran kita disana(seperti dengan email misalnya), tidak begitu masalah jika tidak diprioritaskan.

Empat, individu atau orang banyak. Hal-hal yang terkait individu/ hanya butuh diri sendiri untuk menyelesaikanya, lebih mudah dilakukan daripada berurusan dengan orang banyak. Orang mudah saja lari atau mengabaikan orang lain dan mementingkan diri sendiri/ egoism tanpa memikirkan orang lain. Tapi apakah pernah kemudian kita berfikir sebaliknya? Bagaimana perasaan kita apabila kita menjadi korban keegoisan orang lain? Mungkin itulah yang perlu dipikirkan ketika kita akan meninggalkan acara dimana banyak orang lain akan menjadi korban.

Bertemu dosen yang hanya dapat ditemui seminggu sekali jelas penting, apalagi berkonsultasi skripsi sebagai syarat kelulusan setiap mahasiswa yang kuliah, tentu sangat penting. Tetapi saya lebih memilih untuk sekadar berjalan-jalan berkeliling kampus dan ngobrol tidak penting saat OSPEK hanya karena saya bertanggung jawab kepada lebih banyak orang dan bukan hanya urusan pribadi.

Lima, Value. Bisa kita artikan sebagai nilai, ruh, tidak sekedar wujud fisik keberadaan sekumpulan tulang yang dibungkus kulit dalam suatu tempat dalam suatu waktu.

Reuni SMA misalnya, hanya urusan berkumpul, tertawa dan bercerita. Tetapi ada suatu rasa berat ketika meninggalkanya karena disana ada suatu value dari 3 tahun yang tidak tergantikan.

Makan, mungkin hanya masalah mengisi perut. Tetapi ketika dirangkaikan menjadi suatu kata’makan malam bersama’ tidak lagi urusan mengisi perut. Walaupun bukan perkara penting dan mendesak, bisa jadi suatu hal yang selalu kita lakukan, bisa jadi fleksibilitasnya tinggi, bisa jadi hanya melibatkan satu individu saja bukan banyak orang, tetapi ketika kita tidak datang, bukan hanya lapar yang kita rasakan tapi ada juga rasa kecewa, tidak enak, sedih, beban moral dan lain-lainya. Karena di situ ada suatu ‘nilai’ tersendiri.

Enam, fifty-fifty atau all-or-none. Kalau disuruh memilih: menghadiri setengah-setengah (fifty-fifty) ataukah meninggalkan yang satu sama sekali dan menghadiri yang lain tetapi full sejak awal sampai akhir, saya biasanya akan memilih yang kedua. KENAPA? Fifty-fifty kedengaranya solusi yang cukup bagus, solusi jalan tengah. Tetapi kenyataanya sangat sulit mengaplikasikanya, karena selain tidak focus pada suatu acara, kita akan mengecewakan kedua belah pihak. Berbeda pada all-or-none. Tetapi ada catatan ketika kita memilih all-or-none (ya atau tidak sama sekali), agenda tersebut (yang akan kita tinggalkan) harus memiliki fleksibilitas yang tinggi dan value yang tidak begitu tinggi. Dengan begitu kita bisa menggantinya dikesempatan lain atau disiasati dengan cara lain. Meskipun tidak selalu begitu, terkadang fifty-fifty bisa menjadi solusi yang terbaik, tergantung kebutuhan.

Allah Menyayangiku

Allah sangat menyayangiku,
Ketika aku lupa,
Ia mengingatkanku melalui pesan-pesan agama

Ketika aku lalai,
Ia menamparku dengan realitas dunia,

Ketika aku tidak tahu,
Ia mengajariku dengan hikmah kehidupan

Ketika aku salah melangkah,
Ia membenturkanku dengan pahitnya kenyataan,

Ketika aku jatuh,
Ia membuatku belajar untuk berdiri

Ketika aku kesepian,
Ia memberiku orang-orang yang mencintaiku

Ketika aku butuh cinta,
Kutemukan diri-Nya selalu ada
Karena Ia adalah maha pemberi cinta
yang membuatku tidak pernah bertepuk sebelah tangan

Biar, pada-Nya saja,
Cinta ku agungkan
Karena aku ingin,
Allah menyayangiku.

* di tulis di sisa ramadhan 2009

Beberapa minggu belakangan ini, aku disibukan dengan penelitianku yang membuatku harus setiap hari datang ke Sardjito. Separuh jalan telah kujalani sampai hari ini, bertemu bermacam-macam pasien dengan macam-macam kondisi dan karakter. Bertemu mereka, banyak emosi dan perasaan yang kurasakan yang sebelumnya jarang kualami. Sedih, marah, takut, kecewa, muram, bosan, bahagia, semangat, datang silih berganti. Dan aku mulai belajar banyak…

Bagiku, hal yang sangat bermanfaat kuperoleh mungkin bukan ilmu mengenai malnutrisi rs yang sedang kuteliti tsb.  Tetapi justru banyak hal dari sisi hakikat kehidupan, kemanusian, sosial, psikologis bahkan kasih sayang.

Jujur saja, dari mahasiswa S1 yang masih minim pengalaman dan tanpa pembekalan, tiba-tiba harus dihadapkan pada posisi layaknya tenaga kesehatan yang sudah berkompeten, aku mengalami shock culture dan mungkin masih kurasakan sampai saat ini.

Kesulitanku yang terutama adalah masalah komunikasi dan psikologis. Menjadi tenaga kesehatan menuntutku untuk bersikap manis, atau paling tidak ramah untuk setiap pasien yang kutemui. Hal ini lumayan menjadi suatu perubahan drastis pada diriku yang memang memiliki pembawaan dingin, acuh dan kaku.  Aku tidak terbiasa membiarkan orang terlalu dekat saat pertama kali mengenal, tapi justru kini aku yang dituntut untuk sok dekat saat pertama kali kenal. Bahkan kalau sedikit berlebihan aku pernah berpikir apa aku akan memiliki kepribadian ganda? Tetapi hal ini justru mengajariku bagaimana  memperhalus budi dan membuat orang bahagia atau bersemangat walau kadang tidak terlalu berhasil.

Bagi seorang koleris-melankolis sepertiku, mood sangat ber-efek besar pada kinerja. Aku pernah meninggalkan amanah yang cukup penting hanya karena mood yang tidak bisa diajak kompromi. Oleh sebab itu tidak mengalami hal-hal yang buruk dan menjaga mood tetap di atas awan, amat penting bagiku sebelum masuk bangsal, atau aku akan menghabiskan sisa waktuku dalam kelabu. Tetapi terkadang, realita tidak begitu. Meskipun sebelumnya mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, aku merasa dituntut untuk dapat me-repress semua perasaan tersebut dan menggantinya dengan sebuah senyuman di wajah untuk siap menerima semua keluhan ataupun sekedar sebagai tempat berbagi rasa sakit. Ironis, dan kadang menderita juga. Tetapi siapa lagi kalau bukan kami yang menularkan rasa bahagia dan memberikan harapan tersebut saat mereka putus asa. Oleh karena itu bagiku, memiliki tokoh panutan, memiliki orang-orang yang dicintai, memiliki orang-orang yang mencintaiku, mengabadikan semua kenangan yang membahagiakan di dalam sebuah kotak bernama hati, ternyata dapat memberi spirit tersendiri untuk berpikir positif dan membaginya.

Kemarinpun begitu. Ketika rasa tidak nyaman mulai  hadir, kupejamkan mata dan kuingat sekilas seulas senyum dengan mata penuh harapan akan masa depanku kelak dari seorang sosok yang sangat kukagumi. Berharap ketika dewasa nanti, aku dapat menjadi pengabdi kesehatan sebaik beliau, kubawa semangat itu erat-erat di tanganku.

Hari Sabtu, 21 Juni 09 lalu aku sempat mengikuti seminar yang membuatku merasa bersyukur bisa menjadi salah satu warga fakultas kedokteran di universitas yang didamba banyak orang ini. Sulit dimasuki-banyak sainganya-uang kuliah mahal-fakultas menara gading-lulus maunya cepat kaya dan bermacam-macam stigma buruk yang sekarang berkembang di masyarakat terhadap UGM ini khususnya fakultas kedokteran. Seminar yang menghadirkan ketua senat UGM, rektor UI dan ketua IDI tersebut bertajuk ‘Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan’. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi dunia kesehatan Indonesia dimana banyak tenaga kesehatan yang berkumpul dan terpusat di kota-kota besar untuk mengejar nominal sementara ada suatu daerah di Indosesia yang masih kekurangan tenaga kesehatan, pengobatan susah didapat dan sulitnya mengakses pelayanan kesehatan. UGM sendiri dengan salah satu misinya sebagai universitas perjuangan dan universitas nasional tentu berharap lulusanya termasuk dari FK ini memiliki nilai-nilai tersebut di atas sehingga bersedia ditempatkan dimana saja nantinya apabila bangsa membutuhkan. Akan tetapi dengan kondisi realitas yang seperti itu tentu perlu dipertanyakan lagi kemana semangat kebangsaan dari tenaga kesehatan saat ini. Berikut adalah sedikit refleksi mengenai“Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan” dari tiga pembicara yang luar biasa tersebut:

Yang pertama adalah Prof. Dr.dr sutaryo, Sp.A (K) sebagai Senat Akademik menyampaikan materi mengenai Jati Diri Universitas Gadjah Mada. Beliau memaparkan suatu kilas balik sejarah, yang membuatku mengenal bahwa awal berdirinya UGM ini lekat dengan sejarah perjuangan dan memiliki keterikatan erat dengan fakultas kedokteran. Hal ini karena pertama, pendiri-pendiri awal UGM ternyata adalah individu-individu dengan latar belakang kedokteran yang juga memiliki semangat juang dan kebangsaan yang tinggi. Sebutlah nama Pror. dr. Sardjito yang menjadi rektor pertama UGM beliau adalah seorang dokter, akademisi dan seorang pejuang. Rumah beliau sempat diserang Belanda tiga kali, akan tetapi masa hidupnya beliau selalu produktif. Sempat mendirikan PMI dan RS darurat di Klaten dan mengembangkan media pembuat vaksin. Atau nama Prof.dr. Herman Johannes yang menjadi rektor kedua UGM. Selain seorang dokter beliau juga menguasai cara membuat bom, granat dan mortir yang menyebabkanya menjadi pimpinan pusat perbekalan tentara Indonesia.  Juga Prof.dr. Abdurrachman Saleh seorang guru besar Fisiologi Kedokteran yang juga pendiri RRI, komandalan pangkalan udara Madiun dan juga seorang putra dari pendiri Budi Utomo. Tak lupa nama-nama seperti Bung Karno dan Bung Hatta serta Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor awal berdirinya UGM. Disinilah letak nilai UGM sebagai universitas perjuangan.

Yang kedua adalah karena fakultas kedokteran ini termasuk fakultas yang paling awal berdiri di UGM. Selain fakultas hukum ekonomi social politik yang saat itu disebut HESP. Mahasiswa waktu itu sangat dekat dengan rakyat. Mengapa? Karena termasuk yang paling awal berdiri tentu saja sarana dan prasarana sangat terbatas. Kemudian disebabkan adanya kebaikan penguasa rakyat dalam hal ini pihak Kraton maka perkuliahan saat itu dapat dilakukan. Perkuliahan waktu itu menggunakan ruangan-ruangan Kadipaten Ngasem: poliklinik menggunakan kamar kereta, laboratorium bakteriologi menggunakan kamar penjaga, laboratorium kimia menggunakan kamar abdi dalem, ruang kuliah menggunakan pendopo bahkan rumah sakit menggunakan kandang kuda.  Tak lupa Kursi, meja, papan tulis dipinjami dari Kraton. Maka tak heran bibit yang dilahirkan dari rahim masyarakat ini kemudian kembali pada masyarakat yang telah membesarkan mereka. Maka dikatakanlah UGM ini sebagai universitas kerakyatan. Lain dengan mahasiswa sekarang yang Alhamdulillah kuliah dari ruang ber-AC satu ke ruang ber-AC lainya dan sudah tidak lagi menggunakan barang pinjaman. Akankah kemudian mereka kembali ingat untuk mengabdi pada masyarakat lagi? Maka itulah pentingnya mengapa sejarah harus disampaikan agar pewaris tidak kehilangan nilai-nilai awal perjuangan para pendiri dan asal-usul mereka.

Selain itu perkuliahan dulu tidak semudah dan seringan sekarang. Mahasiswa kedokteran jaman dulu, kuliah mandar-mandir Yogya-Klaten-Solo sebelum fakultas kedokteran dijadikan satu. Hal ini karena lab zoology masih bertempat di RS Tegalyoso Klaten dan lab Bakteriologi di lab Pasteur Klaten. Sementara kuliah berlangsung pukul 17.00-21.00 dari Senin sampai Jumat. Hal ini dikarenakan setiap pagi sampai siang mereka berlatih perang bahkan berperang. Dengan keprihatinan dan usaha semacam itulah kemudian lahir tenaga-tenaga kesehatan yang militan dan mencintai bangsanya.

Lahirnya UGM ini juga dipicu oleh Belanda yang saat itu mendirikan Universitiet van Indonesie (yang selanjutnya berkembang menjadi UI). Maka bapak-bapak pelopor bangsa ini juga tidak ingin merasa kalah. Mereka merasa bahwa untuk membangun negara diperlukan berbagai macam ilmu, maka diperlukanlah suatu universitas nasional (lahir dari bangsa dan mengedepankan kepentingan nasional) yang kemudian diberi label Gadjah Mada ini.  Maka disitulah letak UGM sebagai universitas nasional. Kalau boleh kemudian merangkum kata-kata beliau, UGM ini melalui MWAnya menegaskan jati dirinya sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, univeristas pancasila, universitas kerakyatan dan universitas pusat kebudayaan.

Sesungguhnya materi yang disampaikan beliau sangat menarik karena mengulas tentang flashback sejarah UGM. Dan membuat rasa cinta dengan universitas ini semakin bertambah, apalagi saat menyanyikan hymne nya. Tapi ada satu catatan yang perlu digaris bawahi ialah bahwa sejarah tak lebih dari sekedar romantisme, nilai-nilai yang disebutkan itu kini telah kabur ditelan kapitalisme pendidikan. Ada poin yang  kurasa perlu dipertanyakan lagi sekarang. Masihkah kini UGM bisa disebut sebagai universitas kerakyatan? Dimana letak keberpihakanya dengan rakyat? Pada uang masuknya yang jutaan rupiahkah? Ketika sekarang bisa dilihat betapa rakyat kesusahan dan menangis melihat tingginya biaya masuk universitas ini, tidak mampulah kukatakan lagi UGM ini adalah kampus kerakyatan. Sungguh menjadi ironi kemudian karena seminar ini dilakukan di fakultas kedokteran, fakultas yang notabene memiliki ‘nilai jual’ paling tinggi.

Pemateri kedua adalah Pror. DR der Soz. Gumilar Rusliwa Sumantri, beliau adalah Rektor UI yang termasuk juga sebagai salah satu rektor termuda di Indonesia. Waktu awal menjabat sebagai rector, usia beliau saat itu adalah 43 tahun. Sungguh prestasi yang luar biasa. Tentu aku bertanya-tanya, capaian apa yang membuat beliau dipercaya untuk berada di jabatan tersebut dalam usia muda. Sebenarnya saat berdiri di muka beliau tak jauh-jauh dari menyampaikan romantisme sejarah seperti halnya dr. Sutaryo tentang awal mula UI-UGM yang lekat dengan perjuangan Indonesia (UI yang dekat dengan pemerintah Belanda dan Orde Baru serta UGM yang dekat dengan bapak pendiri bangsanya, hingga kultur yang diturunkan sekarang di masing-masing universitas). Cuma bedanya, disitu aku merasakan semangat kebangsaan sampai terharu-biru. Aku bertanya-tanya barangkali beliau ini waktu mudanya adalah seorang demonstran atau aktivis. Kulihat beliau adalah orator yang hebat dengan kata-kata yang dalam, bermakna dan menyentuh hati meskipun suaranya tidak keras dan lantang. Salah satu penggalan kalimat yang kuingat adalah: “Hanya dengan mengenal sejarahlah kita dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa ini”.

Terkait dengan tema kali itu beliau sedikit menyinggung mengenai Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Tenaga Kesehatan Berwawasan Kebangsaan. Dalam penilaian beliau, peran perguruan tinggi terhadap masyarakat terletak pada konstribusi universitas itu terhadap tegaknya civilization society atau peradaban mayarakat. Dan itu dapat diwujudkan melalui research yang dimanfaatkan untuk membangun masyarakat. Jika direnungkan, tidak mungkin penelitian di Indonesia dengan pembiayaan ratusan juta rupiah bisa menandingi penelitian-penelitian bangsa lain di luar negri seperti Amerika contohnya yang mengalokasikan biaya triliunan dolar untuk mengembangkan research dalam ilmu kedokteran. Akan tetapi ‘chance’ itu masih ada, yaitu terletak pada : nutrisi, herbal dan infeksius disease. Terkait nutrisi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hal tersebut merupakan modal dasar untuk pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang baik. Masih banyaknya gizi buruk di Indonesialah yang menyebabkan kualitas SDM kita tidak siap tanding. Selain itu berkembang pula berbagai penelitian nutrisi klinis juga zat dari nutrisi untuk intervensi terhadap penyakit khusus. Begitu juga dengan herbal yang beranjak dari local wisdom Indonesia. Kesempatan itu terletak dari kekayaan biodiversitas bangsa ini akan tumbuhan sebagai obat (Aku jadi teringat ekstrak Phaleria Macrocarpa/ daun mahkota dewa yang ternyata diteliti dan dipatenkan orang luar negri sebagai obat kanker). Juga tentang infeksius disease yang banyak berkembang di Indonesia. Terutama lagi karena Indonesia ini terletak di daerah tropis dimana penyakit infeksi mudah berkembang. Dan kalau boleh aku menambahi, bangsa ini lebih dominan orang miskin dimana kecenderungan penyakit pada kaum papa adalah penyakit infeksi.

Dan begitulah sedikit yang ia sampaikan. Akan tetapi dari situ kulihat keluasan berpikir dan banyaknya ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Jarang kutemui orang social yang memahami dengan dalam dan tepat permasalahan kesehatan. Bahkan mulanya kupikir beliau juga berbasic dari kedokteran, tetapi nyatanya beliau adalah seorang lulusan sospol. Tepatlah jika kukatakan beliau ini memang layak untuk posisi tersebut juga membuatku merasa beruntung datang di seminar tersebut sehingga bisa bertemu seorang intelektual seperti Pak Gumilar ini.

Dan yang terakhir adalah materi dari dr. Prijo Sidipratomo sebagai Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terpilih menggantikan dr. Fachmi Idris (Ketua IDI saat ini) yang seharusnya mengisi seminar kali itu. Beliau menyampaikan materi bertajuk ’Dokter untuk Bangsa’ yang secara umum  adalah gambaran umum realitas yang akan dimasuki seorang dokter ataupun tenaga kesehatan nantinya ketika lulus dari sekolah kedokteranya. Kalau boleh menambahi, tentu saja diharapkan tenaga kesehatan ini nantinya tidak hanya pandai mendiagnosa dan memberi obat akan tetapi juga peka dan sensitif terhadap fakta social bangsa ini. Sehingga tidak melihat pasien/ masyarakat sebagai obyek tapi realitas social yang perlu juga didekati secara menyeluruh (otak, hati dan sistem).

Beliau memulainya dengan memaparkan kondisi kesehatan Indonesia saat ini. Dimana angka kematian bayi di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN (4,6 x lebih tinggi dari Malaisya; 1,3 x lebih tinggi dari Filipina dan 1,3 x lebih tinggi dari Thailand). Padahal angka kematian bayi dan angka kematian ibu adalah indikator utama dalam menilai kualitas pembangunan kesehatan suatu bangsa. Dan kebanyakan kejadian terjadi di daerah-daerah. Dari preliminary SDKI 2007 angka IMR/infant Mortality Rate tertinggi di daerah Sulbar, Maluku dan NTB sementara paling rendah di DIY. Untuk tataran internasional pun tingkat IMR Indonesia tahun 2009 berada pada posisi 87 di antara negara-negara United Nation, Indonesia ada di bawah Suriname untuk kategori ini.

Tidak beda jauh untuk angka kematian ibu melahirkan yang menurut survey World Bank tahun 2008 ini meningkat menjadi 420/100 ribu ibu melahirkan. Sehingga dikhawatirkan MDGs (Millinium Development Goals) untuk tahun 2015 tidak dapat tercapai dimana pemerintah menargetkan pencapaian 125/100 ribu ibu melahirkan. Hal ini dikarenakan ketidakseriusan pemerintah yang masih mengalokasikan dana APBN atau APBD di bawah 1% untuk menangani masalah ini. Aku pernah tertawa sekaligus kecewa ketika melihat debat capres di salah satu tv swasta. Disitu terlihat bagaimana salah satu calon presiden kita ini yang ternyata tidak memahami besarnya masalah kesehatan dan dampak apa yang dapat ditimbulkanya. Sungguh suatu keprihatinan yang mendalam.

Sementara angka kekurangan gizi pada balita ini masih jauh dari yang ditargetkan pemerintah. Padahal dampak gizi kesehatan ini akan mempengaruhi SDM Indonesia. Tumbuh kembang yang tidak optimal akan membuat gangguan pertumbuhan permanen yang tidak terpulihkan sehingga menyebabkan SDM rendah. SDM rendah ini nantinya akan menjadi beban di masyarakat. Maka tidak heran jika Human Development Index/ Indeks Pembangunan Manusia dari 108 turun menjadi juara ke 110. Negara kita saat ini belum mampu membangun bibit-bibit unggul, terbukti lebih dari 50% anak Indosesia sakit-sakitan dan tidak bergizi baik. Ini adalah hal yang perlu difahami pemerintah bahwa investasi kesehatan dan investasi pendidikanlah yang dapat melahirkan generasi berdaya saing. Jika fondasi kita rapuh tidak akan lahir manusia-manusia Indonesia yang kuat yang dapat membangun dan memelihara negara ini sebagai generasi yang maju.

Dipaparkan juga data mengenai penyakit menular. Dalam hal ini HIV terus meningkat di Indonesia. Juga Posisi Indonesia sebagi negara nomer 3 terbesar di dunia dalam hal jumlah populasi penderita TB(Tuberculosis). Akan tetapi disisi lain kita juga memiliki sekelompok masyarakat yang dapat menghabiskan triliunan rupiah untuk berobat ke luar negri. Serta tuntutan dunia kedokteran yang terus dialiri deras akan kemajuan teknologi.

Lalu bagaimana kondisi dokter di negara ini? Indonesia saat ini dihadapkan pada kondisi kekurangan dokter akan tetapi dihadapkan pula dengan problema mahalnya sekolah kedokteran. Mahalnya sekolah kedokteran ini dikhawatirkan akan berdampak pada prinsip return of investment dari lulusanya. (Menurut Hippokrates seorang dokter hanya diperbolehkan mengambil biaya 5x dari harga bahan pokok dan seorang dokter spesialis hanya diperbolehkan 3x lipatnya dokter umum. OLeh karena itu bila harga beras saat ini Rp 5.000, maka bayaran dokter umum kurang lebih Rp 25.000 dan dokter spesialis sebesar 75.000). Dari perhitungan, diperlukan waktu hampir 10 tahun lagi untuk memenuhi kebutuhan dokter umum di Indonesia dan 35-50 tahun lagi untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis. Sementara jumlah yang belum memadai tersebut tidak disertai pemerataan yang baik. Kondisi dokter kita saat ini lebih terpusat di Jawa, DKI contohnya, dan semakin sedikit di daerah-daerah seperti Gorontalo dan Maluku utara. Tetapi hal ini juga disebabkan karena mayoritas penduduk Indonesia juga terkonsentrasi di pulau Jawa. Akan tetapi itu bukan menjadi suatu alasan kemudian apabila ada suatu provinsi di Indonesia yang kekurangan tenaga medis.

Persoalan jumlah penduduk miskin kemudian menjadi masalah tersendiri. Kalau boleh menambahi, jika dikatakan kemiskinan di Indonesia turun 8% maka perlu dipertanyakan lagi. Apakah yang digunakan adalah pengeluaran keluarga  di atas angka Rp 182.636 per orang perbulan? Apakah termasuk didalamnya BLT? Kalau memang begitu, kurasa tak ubahnya seorang penderita hipertensi yang dikatakan memiliki tekanan darah normal 120/80 mmHg tetapi sedang mengkonsumsi obat penurun tekanan darah. Apabila obat tidak diminum, ya hipertensinya muncul lagi. Kemiskinan saat ini ibarat penyakit persisten masyarakat yang sudah tidak bisa lagi disembuhkan dengan minum berbagai macam obat-dengan berbagai macam karitas.

Nah, yang juga penting diketahui adalah anatomi budget keuangan kita. Ternyata Depkes ini mendapat prioritas nomer 6 di bawah Depdiknas, Dep PU, Dephan, Depag dan Polri. Dari APBN 2009  yang mencapai Rp 1.037,1 triliun ini, anggaran kesehatan hanya 20,3 triliun. Yaitu hanya sebesasr 2% dari APBN. Walaupun idealnya menurut WHO, alokasi untuk pembiayaan kesehatan sebesar 20%. Jumlah anggaran kesehatan yang kecil menunjukan bahwa bidang kesehatan belum dianggap hal yang penting. Menariknya dr. Sidi ini sangat memahami keterkaitan segala bidang termasuk kesehatan dengan politik. Kata beliau kurang lebih seperti ini ”Yang akan menentukan nasib bangsa ini besok adalah siapa pemimpinya. Dan siapapun itu presidenya ia haruslah orang yang memiliki perhatian terhadap kesehatan. Tanpa dana yang mencukupi non-sense untuk menyediakan layanan dan pembangunan kesehatan yang baik. Dan siapapun presidenya ia juga harus menempatkan orang yang ahli di bidangnya”.

Sebagai penutup kukatakan bahwa yang membuatku lega adalah ternyata orang-orang di atas, para stake holder kesehatan (akademisi maupun praktisi) ternyata masih idealis untuk memegang prinsip untuk mengabdi pada bangsa dan berpihak pada rakyat (walaupun jika dalam pelaksanaanya terdapat penyimpangan itu masalah lain). Padahal sebelumnya kukira mereka buta dengan kondisi bangsa saat ini. Yang kugarisbwahi terutama adalah ada kesamaan keprihatinan terkait sekolah kedokteran yang mahal (sebuah otokritik). Dan tentu aku mengapresiasi munculnya ide untuk mendudukan menteri kesehatan dan menteri pendidikan bersama-sama sebagai solusi atas masalah ini.   Yah harapanku semoga itu tidak hanya ide yang muncul lalu hilang menjadi asap, tapi semoga dapat direalisasikan segera. Sungguh pengurus besar IDI ini tidak salah memilih dr. Sidipratomo sebagai ketua yang baru, karena selain visioner beliau ini juga orang yang idealis. Tak kalah hebat dengan dr. Siti Fadhilah Supari, Menteri Kesehatan saat ini. Kalau boleh kukatakan mereka ini the right man in the right place. Kalau pak Bambang Sudibyo mungkin the right man in the right place but in the wrong situation.

Terakhir suatu pesan singkat tetapi menghujam dalam hati dari Prof.dr. Sunarto seorang dokter senior yang banyak berperan di FK ini “Menjadi pintar itu memang penting tetapi memiliki etika itu lebih penting”kurang lebih begitu.

Viva Medica !!!

Sudah seminggu ini aku resah tanpa judul. Meskipun ujian sudah selesai sejak Selasa minggu lalu, tak kunjung hatiku bersemangat menyambut liburan. Karena selesai ujian bukan berarti bisa bernafas lega, tapi karena aku harus segera mengurusi secara serius PR yang satu ini. Yup! Apalagi kalau bukan proposal. Ini merupakan tahap awal yang harus dilewati setiap mahasiswa tahun akhir sebelum melakukan penelitian dan kemudian membuat skripsi. Termasuk juga di fakultasku.

Menentukan judul proposal penelitian sebenarnya hal yang mudah saja ketika permasalahan yang akan diteliti sudah tergenggam di tangan. Akan tetapi ternyata banyak juga mahasiswa yang tidak seberuntung itu ditahap awal pembuatan proposal ini. Mulai dari yang kesusahan untuk bertemu dosen pembimbingnya, gonta-ganti judul karena tidak diterima, masalah pendanaan dan teknis sehingga tidak memungkinkanya penelitian sampai masalah untuk sekedar ‘cari-cari masalah’ pun ada pula yang mengalaminya.

Mungkin aku adalah salah satu mahasiswa kategori terakhir yang kurang beruntung itu. Yah, bukanya aku tidak punya permasalahan yang ingin kuteliti sehingga aku belum bisa menentukan judul yang tepat untuk proposal penelitianku itu. Permasalahan terkait gizi kesehatan sebenarnya ada banyak sekali. Akan tetapi bagiku, sebuah skripsi adalah sebuah ‘master piece’ bagi seorang mahasiswa S1 layaknya sebuah puisi bagi seorang penyair ataupun sebuah lagu bagi seorang musisi. Oleh karena itu harapanku tentu saja penelitian ini nantinya harus sesuai dengan isi hati dan cita-cita pembuatnya.  Mm, tetapi seiring perjalananku, kuhadapi realitas bahwa kita tidak selamanya dapat berlaku idealis dalam hidup. (Kalau boleh sedikit pragmatis: idealis dan keras kepala, tampaknya mempunyai korelasi positif dengan semakin lamanya waktu lulus)

Minat awalku sudah mantap untuk berjalan di rel gizi klinis. Meskipun mayoritas dari rekan seperjuanganku lebih meminati penelitian di lab. Gizi masyarakat maupun gizi institusi juga hebat. Tapi diriku ini memang tidak terarik untuk pergi ke lain hati. Bagiku menjadi ahli gizi klinis yang mumpuni adalah suatu cita-cita. Semakin dekat ke medis semakin aku menyukainya. Dan memang ketertarikanku ini lebih spesifik ke gizi bedah. Makanya 3 judul awal yang ku ajukan semua terkait gizi bedah. Dan syukurnya diamini dari akademik.

Akan tetapi ketika kemudian aku ditawari untuk suatu proyek penelitian bersama terkait gizi malnutrisi rumah sakit, bimbanglah diriku ini. Waktu tahu akan dapat ikut di sebuah proyek tentu saja semangatku membumbung tinggi. Namun demikian, meski malnutrisi rumah sakit masih tergolong gizi klinis, tampaknya aku harus meninggalkan pasien-pasien bedah. Karena penelitian tersebut bertempat di bangsal penyakit dalam. Nah itulah yang membuatku bimbang, karena relku berbelok ke arah lain.

Aku mempertimbangkan masak-masak pilihanku ini. Untuk menolak, bisa saja aku menolaknya dan menjalani keinginanku sendiri. Tetapi setelah kupikir kebanyakan manfaat dan mudharatnya. Ternyata memang itulah jawabanya. Ku ambil keputusan mantap dengan kesadaran dan semangat baru. Bukan sekedar karena masalah teknis pembiayaan seperti  pemeriksaan sampel albumin sekitar Rp 30.000 untuk 1 orang-dan bisa dibayangkan kemudian ketika penelitian membutuhkan  50-an orang responden. Tetapi bagiku, disini yang lebih penting adalah, ada banyak hal yang kusukai akan kutemui. MIsalnya adalah kesempatan untuk bertemu semakin banyak pasien, karena proyek ini membutuhkan sekitar 200 responden. Aku percaya, semakin banyak dan sering aku bersentuhan dengan realitas, maka itulah yang akan semakin mengajariku untuk menjadi tenaga kesehatan yang lebih baik. Ataupun karena kesempatan untuk belajar dan mengobservasi lebih beragam pasien dari penyakit jantung, GI, paru-paru, hati, ginjal, infeksi, kanker dst bukan hanya pasien bedah saja. Jadilah semangatku naik 1000 %.  Dan aku merasa , aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang tidak  akan datang 2 x ini.

Meskipun begitu, belum juga kutemukan judul yang tepat untuk mengganti judul penelitianku itu. 3 hari aku mengisolasi diri dan bertapa mencari pencerahan (he2 berlebihan! Maksudnya mendalami makalah penelitian, membaca banyak buku, mencari berbagai jurnal sambil chatting ditambah doa, sabar dan sholat). Ketika kemudian akhirnya aku dapat judul yang sreg di hati, dan menghadap dosen pembimbingku pada hari Kamis, sungguh kebetulah yang tidak beruntung kalau ternyata tema tersebut hampir sama dengan patner pelitianku.

Nah jadilah sekarang ini aku dalam masa pencarian kembali. Resah tanpa judul. Meskipun begitu, apapun nanti judul akhirnya (lagi-lagi cari yang praktis dan pragmatis), aku akan tetap mengerjakan penelitianku ini bukan sekedar persyaratan untuk sebuah kelulusan. Akan tetap ada cita-cita disitu. Seperti semua mahasiswa yang ada di timur jalan dr. Sardjito yang akan menyeberang jalan tersebut ke barat, ke rumah sakit. Sebuah simplifikasi dari proses kelulusan untuk segera mengabdi pada masyarakat.

Itulah sedikit curhatku, menjalani pembuatn proposal penelitian ini. Yah nyari judul ibarat jodoh, meskipun banyak pilihan, tapi pasti nanti ada satu yang cocok. he2x (tanda-tanda mulai eror). Makasih sudah sempat membaca.

Mataku kembali berkaca-kaca hari Sabtu malam (9/05), minggu yang lalu. Bukan karena apa, habis diputus atau cerita malam mingguan anak remaja lainya. Tapi malam itu aku sedang mengikuti (iseng-iseng sebagai tamu tak diundang) mabit KM3 di masjid KHA Ahmad Dahlan (yang sangat indah) di UMY ring road selatan. Yang lagi-lagi, aku kesasar di dalam kampus. Rencana awal sih cuma ingin tahu dan ta’aruf saja dengan teman-teman sesama persyarikatan, eh ternyata aku justru mendapat oleh-oleh yang cukup berharga.

Secara garis besar acara tersebut diawali dengan pembukaan, pengajian oleh Bu Mismah Kasim tentang urgensi dakwah, teamwork building oleh Mas Ananto dan paginya adalah materi tentang latar belakang pendirian KM3 serta penutupan. Keseluruhan acara lumayan menarik. Tetapi justru yang paling berkesan dan membekas di hatiku adalah ketika pembukaan, karena waktu itu aku kembali mendengar nama yang sudah lama tak ku dengar.

Pembukaan yang seharusnya dibawakan oleh bapak-bapak dari MTDK, sejadinya diwakili oleh Mas Ananto. Bapak-bapak tersebut berhalangan hadir dikarenakan sedang memenuhi wasiat/ keinginan Ust. Suprapto Ibnu Juraimi. Mas Ant bercerita bahwa sewaktu beliau dulu dirawat di RS PKU terakhir kali, beliau sempat menelpon Mas Ant. Meskipun dengan penglihatan yang tidak jelas (istilah medisnya adalah retinopati) karena komplikasi diabetes pada mata, beliau masih dapat mengenali Mas Ant dari suaranya ketika ia datang membesuk. Saat itu beliau berkata bahwa beliau ingin disiapkan acara untuk rihlah dakwah (berdakwah langsung ke daerah-daerah, mungkin salah satu program MTDK). Tentu hal itu langsung tidak disetujui oleh bapak-bapak MTDK ketika mendengarnya. Dan tampaknya mereka menduga kalau sang ustadz ini ingin syahid si tengah jalan, walaupun akhirnya rihlah tersebut tidak sempat terlaksana. Akhirnya jadilah kini bapak-bapak MTDK itu menggantikan Ust. Prapto rihlah dakwah ke daerah-daerah sehingga tidak dapat membuka acara malam itu. Cerita lain tentang kekerasan hati seorang mubaligh: Waktu itu beliau sedang (lagi-lagi) dirawat di RS. Akan tetapi waktu itu beliau mendapat panggilan untuk mengisi kajian di salah satu Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang agak jauh, meski masih di Jawa. Maka beliaupun langsung meminta dokter untuk mencabut selang infusnya. Beliau tetap berangkat meskipun begitulah kondisinya saat itu. Mas Ant yang menemaninya membawakan tabung oksigen di tangan kanan dan sebuah termos insulin di tangan kiri, karena beliau menderita penyakit Diabetes Melitus. Pasien penyakit DM ini membutuhkan suntik insulin seusai pasien tersebut mengkonsumsi makanan. Tentu bisa dibayangkan berapa kali sehari pasien tersebut harus disuntik? Bersama pak Masyhari Makasi dan seorang ustadz lagi, yang juga dalam keadaan sakit menemaninya. Jadilah Mas Ananto dan ketiga ustad ‘sakit’ tersebut berangkat memenuhi panggilan dakwah. Kondisi yang tidak fit pun bukan alasan untuk tidak optimal. Setelah mengisi kajian dari jam 16.00-23.00, selanjutnya beliau bersedia beristirahat. Kemudian Jam 24.00 beliau baru dapat mencuci darah sendiri. Yang dikedokteran biasa disebut Ambulatory Peritoneal Dialysis. Atau cuci darah yang dilakukan sendiri dengan mamasukan cairan ke rongga perut melalui selang kateter. Padahal dialisis ini seharusnya dilakukan 4 jam sekali, tentu bisa dibayangkan bagaimana beliau menahan sakit. Tapi sosok beliau yang saya ingat adalah orang yang sabar, senyam senyum bahkan kadang dengan guyon yang sedikit keterlaluan. Tak kuasalah bibir ini untuk berkata-kata lagi, cuma air mata yang mengungkapkan isi hatiku tentang kesungguhan tekad beliau berdakwah. Saya jadi berfikir: apa sih arti seorang dua orang? Bensin seliter dua liter? Jarak beberapa kilometer? Sejam dua jam menahan kantuk? Yang menyebabkanya menghalangi kita untuk berdakwah? Tidak diabetes, tidak penyakit jantung, tidak gagal ginjal, tidak juga retinopati yang sanggup menghalangi seorang mubaligh sekaliber Ust. Prapto untuk berdakwah. Saya dan juga mungkin teman-teman sekalian seharusnya malu apabila sempat mengeluh di jalan ini sementara kita masih sehat, segar, bugar dan muda. Atau kita mudah futur ketika sakit sedikit, atau halangan-halangan lain. Karena jalan ini memanglah tidak mudah, banyak yang berguguran di tengah jalan saking terjalnya. Entah kapan pula saya. Tapi disini kita bisa melihat bukti bahwa dakwah bisa dilakukan sepangjang usia kita sampai penghabisanya. Menilik hal tsb, kita tentu harus me-reorientasi dan mencharger ghirah berjuang ini setiap saat.

‘’Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah..” Q.S3:110
Kalau soal isi acaranya, ya mungkin kalau sempat ku posting.he2

Cerita di Lapangan

Ada sedikit cerita ketika kunjungan lapanganku hari Rabu kemarin ke Puskesmas Ngaglik II, Sleman. Hari itu kami mengambil data di posyandu-posyandu setempat dalam rangka mata kuliah Perencanaan Program Gizi. Bagiku kunjungan lapangan selalu menyenangkan. Aku lebih excited ketika terlibat langsung di lingkungan kerja dan mengamati daripada belajar konvensional dengan duduk di kelas. Ke Sardjito, PKU, JIH, ke sport center, ke catering-catering menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Bahkan jika mata kuliah yang berkaitan dengan kuliner, makan dari warung ke warung pun bisa dapat A. Termasuk juga kunjungan ke Puskesmas ini, kutemui bahwa apa yang tertulis di text book-text book berbeda jauh dari kenyataan. Alhamdulillah lokasi kunjunganku ini cukup dekat dari UGM (jika dibandingkan lokasi kelompok lain yang di Pajangan atau Tempel). Meskipun begitu tetap saja aku sempat tersasar (Aku jadi semakin tidak mempercayai kemampuan navigasiku sendiri). Sambutan ibu-ibu disitu cukup hangat dan antusias. Sehingga kami lancar-lancar saja survey tentang hubungan status gizi balita dengan pola asuh, pengetahuan ibu dan Pola Hidup Bersih Sehat.Aku berkesempatan mewawancari 3 responden dari 20 pasangan ibu & balita yang kami butuhkan. Ternyata apa yang kami kaji di kelas-kelas ber-AC memang lain betul dengan di masyarakat. Aku cukup heran dengan responden ke-2 ku yang baru saja bersalin dan ia tidak faham sama sekali tentag ASI eksklusif. Atau responden ke-3 ku yang tidak bisa membedakan karbohidrat, protein dan lemak. Ketika bertukar cerita dengan teman-temanku lain puskesmas, tampaknya hasilnya tak jauh berbeda. Bahkan ada juga yang baru mendengar istilah protein, lemak dan karbohidrat. Mungkin hal ini sepele. Tapi hal inlah yangi menjadi alasan mengapa di Indonesia kasus gizi buruk terus muncul. Yah, aku mendapat pengalaman lumayan banyak hari itu. Termasuk itu adalah pertama kali aku melihat dan berinteraksi langsung dengan anak autis. Walaupun sang anak yang sudah berusia 3,5 tahun masih belum dapat berbicara dan berjalan, dan tanda-tanda autis yang ada dari anak jelas kentara tetapi tampaknya sang ibu tidak menyadari hal tersebut. Di tambah satu lagi cerita yang agak unik. Baru kujumpai kali ini: bahayanya jika menafsirkan hadist hanya secara tekstual saja. Ini tidak sekadar tentang baju atau eksistensi. Tapi ini tentang bagaimana sebuah hadis bisa membunuh seorang wanita, bukan, bisa jadi sebuah keluarga apabila hanya diamalkan secara tekstual saja tanpa penafsiran tambahan. Masya Allah, hatiku miris mendengar cerita ini, ini bukan tentang Islam yang aslama, bukan tentang islam yang bermaslahat untuk seluruh umat manusia, tetapi ini tentang penjajahan terhadap kaum wanita. Sedikit bercerita, jadi di posyandu tersebut, ditemukan 3 kasus gizi buruk dari 1 keluarga yang sama. Aku pun penasaran. Apa karena keluaraga tersebut tidak mampu, seperti kebanyakan kasus lainya?Atau karena lainya? Ternyata akar penyebab kasus satu ini cukup berbeda. Ketiga anak gizi buruk ini didapati dari seorang ibu, yang dari kata-kata ibu kader posyandu, yang berbusana muslimah panjang dan bercadar. Tidak hanya 3 anak sebetulnya yang ia miliki, tetapi 9 anak. Ia pernah mengalami kehamilan sebanyak 10 kali (terjadi keguguran di gestasi 9) di usianya yang 30 tahun itu. Tentu saja aku tercengang. Penjelasan lebih lanjut sang ibu ini hamil lebih dari 2 kali dalam setahun. Tentu wajar saja kemudian apabila terjadi gizi buruk pada anak-anak mereka. Sang suami tampaknya tidak mengizinkan istrinya ber-KB dan mengancam menceraikan sang istri bila melakukanya. Lebih parah lagi tampaknya perawatan sang anak hanya dilakukan oleh sang istri melihat sang ayah yang kerap kali berpergian ke Jakarta. Yang lebih miris plus marah, sang ibu ini ternyata tergolong KEK atau Kurang Energi Kronis. Yang amat sangat beresiko melahirkan bayi (yang lagi-lagi) gizi buruk dengan persalinan yang juga riskan (resiko kematian dan keguguran). Belum lagi diperparah dengan statement bahwa sang ibu ini sedang hamil 2 bulan, pasca melahirkan. Saya tegaskan: pasca melahirkan!!!! Masya Allah..perempuan itu bukan binatang ternak. manusia macam apa sang suami ini sebenarnya? Inikah cara ia memuliakan wanita? bagaimana bisa memberi maslahat ke umat seluruh dunia? Memberi maslahat terhadap keluarganya sendiri pun ia tidak mampu. Kalau memang keluarga tersebut berprinsip ‘Allah menyukai keturunan yang banyak’, tentu saja hadist ini tidak bisa ditafsirkan begitu saja secara tekstual. Tidak kemudian mendzalimi sang istri dan sang anak. Jika memang berpendapat tidak sepakat dengan KB, tetap saja planning harus dilakukan. Kalau hanya sekedar ‘buat anak’ tanpa memperhatikan aspek kesehatan, bukan laskar-laskar jihad yang ia dapatkan. Tapi anak-anak cacat yang hanya akan menambahi beban masyarakat dan beban negara ini! Karena apa? Karena kalau sang orang tua tidak sanggup mengangkat status gizi balita dari gizi buruknya terutama di usia 2 tahunya. Ia akan menjadi manusi yang sia-sia saja. Karena perkembangan kognitif yang terganggu, debil, imbisil, IQ rendah dst. Masa depan apa yang akan diberikan orang tua terhadap si anak tersebut? Itu hanya sekedar hadist. Lalu dimana mereka menerapkan ayat al-quran yang mengatakan: sapihlah bayi itu ketika usia 2 tahun? Itu artinya apa? Itu artinya islam menyarankan minimal kehamilan anak berikutnya adalah 2 tahun. Hal itu disebabkan ibu yang sedang menyusui ketika ia hamil ia harus berhenti menyusui, karena gizi yang dimiliki sang ibu, sebaiknya diberikan kepada janin. Itu artinya sang anak yang lahir terlebih dulu harus berhenti/ disapih. Kurang lebih begitu maksudnya. Tetapi bukan berarti kehamilan sebelum 2 tahun dilarang. Hal itu boleh saja, akan tetapi kalau sampai 2 bulan hamil setelah kelahiran, rasanya cukup keterlaluan juga. Nah ini seharusnya menjadi PR dari kaum-feminist untuk bergerak dan tidak hanya mencari kesalahan-kesalahan al-Quran melulu. Kukira kalau dilaporkan ke rifka Anisa, bisa jadi kasus ini laku. Islam itu agama yang selamat, ia memberi kemaslahatan kepada seluruh umatnya. Saya kira kalau membuat seorang manusia saja menderita seperti ini. Kurasa ada yang tidak berses dengan pengaplikasianya atau tafsiranya. Kita tidak bisa hidup dengan ilmu agama semata, kita juga memerlukan tafsiranya demi kemaslahatan manusia, dalam hal ini, adalah ilmu kedokteran. Aku tidak ingin membahas masalah gender dalam artikel kali ini. Tapi aku hanya ingin sedikit membagi temuanku ketika turun ke lapangan: ternyata tidak hanya tingkat ekonomi dan akses terhadap pelayanan kesehatan saja yang berkontribusi terhadap terjadinya kasus gizi buruk di masyarakat, tetapi juga sosial budaya masyarakat, yang dalam hal ini adalah aliran agama.

Older Posts »