Feeds:
Posts
Comments

Kontraktor dan Gedungnya

Suatu ketika, adalah seorang kontraktor yang sangat berjaya dalam kariernya. Apa-apa yang digambar dan dibangunya selalu menjadi pujian bagi pelanggan dan atasanya. Akibatnya kariernya, menanjak dan terus menanjak. Akan tetapi suatu ketika di puncak kariernya, ia merasakan kebosanan. Ia bosan dengan hidup yang tenang dan baik-baik saja. Ia menginginkan suatu tantangan dalam kehidupanya. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut dan pindah. Akan tetapi sebelum ia keluar, Bos-nya memberikan sebuah syarat. Syarat tersebut ialah agar kontraktor tersebut membangunkanya sebuah gedung untuk yang terakhir kali sebelum ia keluar. Bos tersebut mengatakan bahwa ia memberikan seluruh kepercayaanya untuk membangun gedung tersebut. Ia boleh menggunakan bahan apa saja yang ia butuhkan dan ia inginkan. Ia boleh menggunakan pekerja sebanyak yang ia mau. Ia boleh menggunakan lahan seluas ia mau. Ia boleh mengembangkan segala bentuk model bangunan dan segala metode maupun mesin-mesinya. Setelah menerima kepercayaan sang bos, sang kontraktor pun mulai menggambar. Akan tetapi ia merasa karena ini adalah proyeknya yang terakhir, ia tidak perlu membangun gedung yang terlalu megah dan rumit. Karena akan memakan banyak waktu, tenaga dan biaya sementara ia akan segera keluar dari tempat tersebut. Maka ia menggambar dengan setengah hati, membangun apa adanya juga menggunakan bahan sekedarnya dan bukan bahan yang terbaik yang dapat digunakan sekalipun bosnya telah mengizinkan. Nah ketika sudah jadi, dibawalah sang bos untuk melihat karya yang terakhirnya tersebut. Sang bos tentu saja kaget dan kecewa karena melihat hasil karya sang kontraktor yang justru tidak lebih baik dari karya-karyanya yang sebelumnya. Sementara dibayangkanya, hasil tersebut akan luar biasa bagus karena ia telah memberikan seluruh kepercayaanya. Akan tetapi sebagai rekan tentu sang bos mengapresiasi gedung tersebut secara baik kemudian ia berkata ‘Bangunan ini semuanya untukmu, sebagai tanda terimakasih terakhir sebelum engkau pergi’. Dan memang begitulah niat sang bos sejak awal. Ternganga-lah sang kontraktor tersebut. Andai sebelumnya ia tahu, ia akan mengerahkan seluruh daya dan upayanya membangun gedung tersebut. Tetapi sudah terlambat.

Ya begitulah teman, ibrah yang bisa kita ambil adalah apapun amanah kita, apapun yang kita usahakan sekarang ini, belajar, berusaha, bekerja. Semua itu adalah dalam rangka untuk membangun sebuah gedung. Andai kita mau mengerahkan seluruh tenaga, biaya dan waktu tentu gedung yang terbaik yang kita dapatkan. Akan tetapi terkadang walau kita bisa, kita tidak mau. Padahal sebenarnya, apa-apa yang kita usahakan sekarang ini, adalah untuk diri kita sendiri manfaatnya. Hasil akan mengikuti proses yang baik. Kalau kita mencurahkan seluruh hati dan usaha kita dalam prosesnya, Insya Allah hasilnya tidak akan mengecewakan. Andai hasilnya tidak sesuai dengan yang kita bayangkan pun paling tidak kita sudah memberikan bahan-bahan terbaik dalam membangun gedung tersebut, telah berusaha dengan baik dalam proses tersebut sehingga kita dapat belajar dari sana.

Kita tidak pernah berebutan berjabat tangan kemudian menciuminya. Ataupun kita tidak haram untuk berdebat sampai mengkritik guru ngaji, bila perlu tidak jadi soal untuk dilakukan. Tidak juga menghiasi nama mereka dengan panggilan-panggilan penghormatan. Tidak juga takut tidak kebagian berkah guru ngaji kita. Pendidikan formal di Muhammadiyah pun tidak pernah menekankan penghormatan terlalu berlebihan pada individu dalam hal ini guru. Mengapa begitu?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita tentu harus menyinggung sedikit mengenai paradigma pendidikan islam: pendidikan tradisional v.s pendidikan liberal.
Seperti yang kita tahu, pada pendidikan tradisional terdapat paradigma bahwa teks adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan. Segala persoalan yang dihadapi wajib dikembalikan pada Al-quran. Karena kebenaran mutlak hanya terletak pada teks maka tidak mendahulukan teks merupakan perbuatan dosa. Letak akal menurut paradigma ini, tunduk di bawah teks. Memahami teks menggunakan akal berarti sama saja mencampuradukan wahyu dengan pemikiran manusia. Teks harus ditafsirkan dengan teks. Oleh sebab itu ilmu filsafat yang sangat menitikberatkan pada rasionalitas, disini sangat diharamkan. Manusia juga tidak diperbolehkan menafsirkan teks sendiri. Karena dilarang memahami sendiri, itu berarti kita membutuhkan guru yang menerjemahkan teks tersebut. Alhasil kebenaran mutlak menjadi milik guru/ulama/kyai/murrobi. Sehingga posisi guru sangat-sangat tinggi, disegani dan dihormati. Model pembelajaran seperti ini merupakan model pengajaran pedagogic. Dimana murid diasumsikan tidak mengeri apa-apa sementara guru adalah serba tahu. Guru memberi pengarahan dan murid mencatat. Kelemahan dari hasil pendidikan seperti ini adalah akan menghasilkan generasi yang kurang kritis dan hanya menjadi baying-bayang pemikiran murrabinya atau bahasa lainya muqallid. Ketika kemudian terbentur dengan realitas yang dihadapinya berbeda dengan yang ia dapat/pelajari maka kecenderungan menjawabnya adalah “Kata Ustadz saya begini…” atau “Pokonya kata Ustadz saya…” tanpa dapat menunjukan dasar sumber qur’an/ hadist/ pemikiran yang digunakan. Hal ini dikarenakan potensi individu cenderung dimatikan bahkan tidak mendapat tempat atau tidak diakui sehingga cenderung tidak dapat menghasilkan pemikiran sendiri. Ketika kita selalu memuji-muji kelompok sendiri dan mencela kelompok lain, maka cara pembelajaran seperti ini mudah untuk membuat pesertanya menjadi fanatik. Karena apa yang dikatakan oleh gurunya “sami’na wa atho’na” tanpa ada usaha dialogis atau mempertanyakan ‘Kenapa?’
Sementara pada pendidikan liberal akal merupakan alat utama untuk memahami teks. Karena tanpa menggunakan logika, teks hanya akan jauh dari realitas. Jauh dari peradaban dan perkembangan zaman. Setiap manusia telah diberi akal oleh Allah, maka setiap manusia wajib untuk mencari hakikat dari kebenaran menggunakan akal masing-masing. Untuk menghilangkan kebenaran mutlak yang hanya dimiliki kyai/ ulama/murrabi maka seorang murid diletakan sejajar dengan gurunya. Sebab kebenaran mutlak bukan milik guru akan tetapi milik Allah SWT. Guru bukanlah orang suci yang bebas dari kesalahan. Guru bukanlah penguasa mutlak ilmu pengetahuan. Guru bisa saja salah dan murid bisa saja benar. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan untuk saling belajar dan saling koreksi. Pola pendidikan andragogis seperti ini merupakan metode dialogis dua arah yang bisa dikatakan metode yang dapat menghasilkan pembaharu/ mujadid, walaupun bisa juga kebablasan dalam menafsirkan agama.
Baik metode pendidikan tradisional maupun metode pendidikan liberal memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu dikembangkan metode setimbang/ pertengahan di antara keduanya yaitu metode pendidikan Sintetis yang merupakan kombinasi dari keduanya sehingga mengambil kelebihan dari masing-masing metode dan meminimalkan kelemahan dari keduanya. Contoh tokoh-tokoh pendidikan tradisional antara lain: Ibnu Taimiyah, Imam Hambali, Abdul Wahab, Rasyid Ridla, Yusuf Al Qardawi, Hasan Al Banna dll. Tokoh-tokoh pendidikan liberal antara lain : Abdul Razig, Mustafa Kamal, Abu Zyad dll. Tokoh-tokoh pendidikan sintetik antara lain: Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, KHA Dahlan dll.
Sehingga dapat disimpulkan sendiri. Mengapa orang Muhammadiyah tidak mengkultuskan gurunya? Hal tersebut karena paradigma pendidikan islam yang digunakan yang berbeda

Atasi Obesitas

Gemuk dan merasa baik-baik saja dengan kegemukan anda, sama membahayakanya dengan seorang perokok yang merasa baik-baik saja dengan tubuhnya sampai akhirnya penyakit jantung muncul.
Karena apa?
Karena obesitas atau berat badan yang terlalu berlebih, merupakan penyakit kronis, yang progresifitasnya lama sampai akhirnya dapat menimbulkan penyakit. Seperti halnya rokok. Ketika kita merokok, kita tidak serta merta akan sakit. Akan tetapi bisa jadi efeknya baru kita rasakan 10 tahun atau 20 tahun kemudian.
Begitupula timbunan lemak ini. Butuh waktu lama sampai akumulasi lemak yang menempel di pembuluh darah dapat menyebabkan sumbatan sehingga menimbulkan penyakit jantung atau stroke. Tidak hanya itu, penderita obesitas memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap kanker, penyakit kantung empedu, gagal ginjal, diabetes, hipertensi dan lainya.
Oleh karena itu, kita tidak boleh nyaman dengan kondisi obesitas ini sekalipun kita menerima diri kita apa adanya dan ketika lingkungan sosial kita pun tidak keberatan. Kalau obesitas ini didiamkan, itu berarti kita mengizinkanya mengundang penyakit-penyakit kronis terjadi pada tubuh kita.
Akan tetapi kemudian, ketika kita berusaha menurunkan berat badan dan mengalami kesulitan, kita akan serta merta menyalahkan gen “Sudah bawaanya gemuk nih!” Eh tunggu dulu! Menurut penelitian obesitas atau kegemukan ini 95 % ternyat disebabkan oleh perilaku makan dan gen hanya menyumbang 5 % saja. Gen ini juga dipengaruhi oleh orang tua. Seorang anak memiliki kemungkinan gemuk 40% apabila salah satu orang tuanya gemuk, kemungkinan ini meningkat menjadi 80% apabila kedua orangtuanya gemuk, sedangkan apabila kedua orang tuanya tidak gemuk, ia hanya akan memiliki kemungkinan untuk gemuk sebesar 14%.
Oleh sebab itu, sebelum menyalahkan gen ada baiknya kita melihat terlebih dahulu pada perilaku makan dan gaya hidup kita:
Sudahkan makan dengan baik dan benar?
Butuh jawaban panjang dan lebar untuk menjawab pertanyaan ini dengan benar. Akan tetapi ada rumus diet yang sangat simple dan mudah diingat untuk melakukan diet praktis: makan ½ dari biasanya dan makan rendah MaL (Manis, Asin dan Lemak). Mudahkan?
Sudahkan melakukan aktivitas fisik secara regular?
We are what we eat! (Di buku-buku kesehatan aku menemukan jargon tersebut sebagai jargon makanan sehat yang mengingatkan kita untuk waspada dengan apa-apa saja yang kita makan. Sementara di buku-buku sosial aku menemukanya sebagai jargon dari pendukung yang menuhankan mahzab materialisme). Akan tetapi menurut ilmu gizi pun, we are not only what we eat. Tidak hanya dengan modifikasi makan dapat menurunkan berat badan sekaligus. Perlu juga melakukan modifikasi gaya hidup. Konon katanya, nenek moyang kita pun memiliki makanan melimpah dan banyak makan pula dahulu kala. Akan tetapi hal tersebut diiringi dengan aktivitas fisik mereka yang berburu dan mengelana. Sementara manusia modern yang sekarang, memiliki makanan melimpah dan banyak makan akan tetapi gaya hidupnya sedentary/ bermalas-malasan sehingga apa yang masuk tidak seimbang dengan apa yang keluar.
Dan perlu diingat: olahraga bukanlah ketika kita beraktivitas fisik berat dan kemudian berkeringat. Olah raga adalah ketika kita melakukan kegiatan di luar rutinitas keseharian kita. Kegitan tersebut dilakukan rutin minimal selama 15 menit, 3 kali selama 1 minggu.

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Am I Overweight?

Apakah berat badan anda berlebih? Atau berat badan anda sudah ideal? Bagaimana anda bisa mengatakan begitu?

Terkadang kita khawatir ketika berat badan kita naik. Akan tetapi bukan naik/ turun yang penting bagi kita, melainkan apakah berat kita kurang, normal, ideal ataukah berlebih. Bagaimana mengetahuinya? Ada beberapa cara g mudah yang bisa dilakukan secara mandiri. Check this out :

Pertama, dengan mengukur lingkar pinggang atau disebut WC. Wist Circumference. Nilai normal untuk wanita adalah 80 cm dan laki-laki 90 cm. BIla nilai pengukuran yang anda dapat lebih dari itu, maka ada kemungkinan terjadi kenaikan profil lemak dan glukosa dalam darah anda.

Kedua, dengan mengukur lingkar pinggang dibandingkan dengan lingkar panggul atau disebut juga WHR (Wist Hip Ratio). Caranya: Ukur lingkar pinggang (di bawah pusar), ukur lingkar panggul (bagian paling lebar) kemudian nilai lingkar pinggang dibagi dinilai lingkar panggul. Untuk wanita, normal apabila nilainya 0,80 dan untuk laki-laki 0,90. Semakin tinggi WHR maka akan meningkatkan profil lemak, glukosa dan tekanan darah anda.

Tiga, lingkar umbilicus. Seseorang dikatakan obesitas sentral/ gemuk perut apabila lingkar pusarnya melebihi 100 cm untuk laki-laki dan melebihi 90 cm untuk perempuan.

Empat, membandingkan berat badan dengan tinggi badan kita. Dengan cara ini, kita dapat mengetahui berapa berat badan ideal kita, berat badan normal kita dan Indeks Massa Tubuh. Yup, siapkan kalkulator terlebih dahulu

Jika seorang wanita memiliki tinggi 167 cm, berapakah berat badan normal, berat badan ideal dan berapakah Indeks Massa Tubuhnya?

Berat Badan Normal (bbn ) dihitung dengan cara nilai tinggi badan dalam senti dikurangi angka 100. Sehingga berat badan normalnya : 167-100= 67 kg. Nilai lebih dari 10% sudah tergolong overweight.

Sementara Berat Badan Ideal (BBI) dihitung dengan cara : BB normal-10%. Sehingga berat badan ideal wanita tersebut adalah : 67-6,7= 60,3 kg

Perhitungan Indeks Massa Tubuh/IMT disebut juga BMI (Body Mass Index). Indeks Massa Tubuh dihitung dengan cara membagi berat badan saat ini dengan tinggi badan kuadrat: BB (kg)/TB kuadrat (m). Seandainya berat badanya 60, maka IMT wanita tersebut : 60/(1,67 x 1,67)= 21, 5. Kemudian hasil tersebut dibandingkan dengan standar. NIlai normal antara 18,5-22,9. Nilai overweight antara 23-24,9. Nilai obesitas ringan antara 25-29,9. Nilai obesitas berat jika lebih dari 30. Sementara seseorang dikatakan underweight apabila nilai IMT diperoleh di bawah dari 18,5 untuk orang Asia. Nilai IMT 21, 5 wanita tersebut, termasuk berat badan normal.

Nah begitulah, ternyata mengetahui kita gemuk atau tidak, cukup mudahkan? So, selamat mencoba.

Kemana Semangat Itu?

Kemana semangat itu ya? Aku  sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa yang salah sebenarnya? kenapa begitu futur. Cita-cita yang begitu tinggi dan rasa cinta itu? Hmm kini terasa begitu hambar …

Sudah tiga minggu belakangan ini aku futur. Futur penelitian. Semangat yang biasanya, kini begitu saja menguap. Padahal tinggal menghitung hari saja aku akan segera meninggalkan bangsal A dan B. Seharunya aku sedih, tapi dalam lubuk hati terdalamkuy justru aku senang, lega dan bersyukur. Kenapa ya?

Ketika kubaca postingan lamaku : http://lulukria.wordpress.com/2009/06/28/perjuangan-demi-menyebrang-sebuah-jalan-i/ kusadari pekerjaan ini adalah the thing most i wanted in the world now, suatu hal yang amat sangat kuingini. Kalau ditanya setelah jadi ahli gizi mau kemana: di masyarakat dan puskesamas, di perusahan dan di klinik dan rumah sakit. Tentu saja aku tidak perlu berpikir lebih dari satu detik.  Pun kalau ada modal aku menginginkan rumah sakit sendiri (sayangnya tidak… ). Segala pernak-pernik di rumah sakit begitu kusukai. Tantangan menghadapi orang yang sedang mempertaruhkan hidupnya, kompilasi multidisiplin ilmu dan multiprofesi, sampai bagian-bagianya, apa saja-apa saja. Sesuai dengan idealisme ku. Tapi kemana semangat itu?

Belakangan ini aku menjadi orang yang begitu tidak bertanggung jawab. Datang ke RS pun kadang tidak kulakukan, kalau datangpun hanya di instalasi gizi, kalau sudah ke buku registerpun tidak masuk ke ruangan, kalau ke ruanganpun wawancara asal cepat, itupun hanya mengambil pasien satu-dua. Padahal aku tahu semuanya butuh skrinning. Ah, kenapa begitu futur? Apa yang salah?

Memang teman-teman penelitianku beberapa sudah tidak ada. Apa mungkin aku kesepian? Kesepian intelektual. Kesepian teman untuk berbagi ide dan berdiskusi. Tapi setelah kupikir-pikir, ternyata bukan itu alasanya. Dulupun sebelum hari raya, di saat semua orang sibuk mudik, di saat di lorong-lorong bangsal benar-benar hanya angin lewat saja, kakiku tetap begitu setia melangkahkan kaki untuk sekedar menjenguk. Bahkan sampai hari H-1 syawal aku masih setia. Entah kemana perasaan itu?

Memang benar, segala sesuatu hanya tergantung niat. Hanya dengan niat hal yang mustahil pun jadi kenyataan. Niat punya kekuatan untuk menggerakan secara luar biasa. Dan ketika niat itu hilang, hilang pula lah energi itu. Seperti padang pasier kekeringan…

Aku sendiri pun tidak mengerti kemana semangat itu. Sudah  2 bulan lebih sejak 1 minggu sebelum puasa aku memulai penelitian, sudah wajar saja aku terlalu letih. Yang kusimpulkan mungkin aku telah mencapai titik jenuhku. Mungkin memang perlu berhenti sejenak untuk kemudian bisa melanjutkan. Mungkin perlu menjauh sejenak sehingga bisa merindukan nikmatnya lagi.

Well, aku berharap semangat itu segera kembali…

Just A Story

Everyone need love.
He says  “you will be happy everywhere you go. You can be what you want to be. Everywhere you go, Just be happy.”
I don’t wanna hear that. My heart tortures a lot
I say “How can I be happy when my love is not around? Life is not live where there is no love.”
I almost cry.
Love is still love. It lies deep in our heart. But I can’t be by your side anymore
“No! No, you won’t”
I start to cry…
I ask “Why? Why? Why it’s always me? Why must am I be alone?”
I cry louder.
You are not alone. There’s always me there inside your heart. Remember?”
“But why do I feel so lonely? It never be the same without you. I’m not gonna make it. A life without you is not a real life”
I believe you can. You are gonna make it. You can be a strong girl.”
No, I don’t wanna be a strong girl. All I want is you. That you always by my side…..

There is no more answer. But reality makes it clear. When I open my eyes. I found that life just has stopped. That you leave me alone though I don’t want it happened. What you’ve said become true. Because there’s no choice for me. You don’t give me a chance to make a choice.
You are still always in my heart, deep inside my heart
Am I strong now?
I don’t know
But I often cry a lot.
Am I happy now?
Yes, I am happy. Or sometimes pretending to be happy.
Like what I’ve said ‘it never be the same without you’
But when I found a real happiness
I know it because time goes on

Perlahan seorang gadis mendekati sebuah cermin. Bingkainya indah tetapi isinya kosong, gelap. Besar dan berdiri tegak. Dia berdiri di depanya. Tetapi bukan bayanganya yang didapatinya. Sosok lain dirinya, di hatinya. Disitu ia temukan, seorang anak berusia 14 tahun. Pandanganya kosong. Just stuck there crying and without words. Ya, di umur itulah hidup ku berhenti. Ketika seorang yang paling kucintai meninggalkanku. Perpisahan selalu berat adanya.
Cermin adalah hati. Kegelapan adalah masa lalu.
Ketika aku merasa sedih, ketika aku merasa sendiri, terkadang aku berpaling dari kehidupan,,
Perlahan aku mendekati sebuah bingkai, menemui gadis di balik cermin.

She says “The thing that I hate most is…
Being alone…”

Kalau orang Jawa punya ‘Tresno jalaran kulino’, agama pun punya filosofi seperti harta; keturunan; kecantikan dan agama-dalam memilih pasangan hidup. Buku-buku pop sekarang ini juga ribuan postingan di blog dengan tema serupa bertebaran di jagat internet. Banyak dari mereka melihat dari sisi filosofis, romantisme, agama, dan lebih banyak lagi yang sekedar mengungkapkan perasaan masing-masing penulisnya. Tetapi penemuanku ini agak lain, yaitu kajian dari segi ilmiah melalui sudut pandang ilmu psikiatri (‘Psike’berarti jiwa. Sementara ‘psikiatri’ berarti spesialisasi/cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penyakit jiwa. Perbedaan psikiater dan psikolog-sejauh yang aku tahu, terutama adalah dalam meresepkan obat, psikiater diijinkan dan psikolog tidak.)

Di buku yang berjudul ‘Islam, Etika dan Kesehatan’ itu di dalamnya ada bab mengenai ‘Kesehatan Keluarga : Probema Perkawinan dari Aspek Psikiatri’ dibahas oleh dr. Prayitno Siswowiyoto yang kebetulan saja kutemukan. Berikut hal-hal yang sedikit menarik untuk dibagi dan sedikit tambahan dariku:

Dokter tersebut menuliskan: banyak hal-hal yang mempengaruhi keharmonisan keluarga, salah satunya faktor kecocokan. Kecocokan kepribadian antara suami dan istri ini mempunyai peranan penting dalam menentukan perkembangan kejiwaan anak terutama, dan pasangan. Pertentangan yang terus menerus dalam keluarga akan menimbulkan kegelisahan, ketegangan dan rasa tidak aman. Ada beberapa tipe problema psikiatrik dalam keluarga:

1. Chronio Dependency (ketergantungan yang terus menerus)

Pria atau wanita yang mempunyai sifat sangat bergantung pada pasanganya, biasanya hanya menuntut cinta dari patnernya tanpa dapat memberi kecintaan yang wajar. Jika ia dapat menikah dengan pasangan yang bersifat seperti orang tua, mungkin pernikahan dapat dipertahankan walaupun tidak normal (apparent child balance). Seperti seorang pemabuk yang dapat istri keibuan atau yang lebih banyak, seorang wanita yang kekanak-kanakan mendapat suami yang kebapak-bapakan. Tetapi jika keduanya mempunyai sifat ketergantungan yang sama (sama-sama tidak dewasa, sama-sama kekanak-kanakan), mereka akan sering menghadapi konflik dan perpecahan yang akhirnya berpisah.

Di referensi lain yang pernah kutemui, pada usia fisiologis yang sama, sebenarnya laki-laki memiliki kematangan psikologis jauh di bawah wanita. Ini terbukti misalnya ketika wanita memasuki tahap adolescent awal dimana telah mampu ber-reproduksi, ia akan segera dapat mengambil peran sebagai ibu. Sementara laki-laki di usia tersebut masih sibuk bermain game dengan teman laki-laki sebaya-nya. Oleh karena itu kadang pernah kita dengar ada baiknya pasangan mengambil jarak: wanita dengan laki-laki tiga tahun lebih tua atau sebaliknya. (Meskipun menurutku sebenarnya, tidak selalu dapat dipukul rata seperti itu)

2. Narcisistic Marriage (Cinta diri yang berlebihan)

Tipe orang ini biasanya lebih suka mencari-cari pujian dari orang lain dibandingkan membagi/ memberikan kasih sayang. Dalam perkawinan, jika suami/istri dianggap kurang memuji atau mengaguminya, dia akan menuduh yang bukan-bukan. Mungkin hampir mirip-mirip sitkom SSTI (Suami-suami Takut Istri) di salah satu TV swasta.

3. Prolonged Family Rivalriese (Persaingan dengan pihak mertua)

Perasaan fiksasi kepada orang tua yang terus menerus dibawa dalam kehidupan pernikahan akan menimbulkan perasaan ambivalent (perasaan mendua) antara orang tua dan patner. Kemungkinan akibatnya adalah terjadi ‘Housekeeper marriage’(istri sebagai pembantu) karena suami yang sangat terikat dengan ibunya akan sedikit sekali memberikan perhatian pada istrinya (jadi ingat cerita Manohara…).

Kemungkinan hal semacam ini bisa terjadi pada keluarga patrilineal, dimana laki-laki amat diutamakan. Tapi bisa juga terjadi di luar itu.

4. Chronic Hostile Dependency (ketergantungan yang disertai sikap permusuhan)

Pria/wanita yang karena perasaan marah dan permusuhan sejak masa kanak-kanak terus dibawa dalam kehidupan dewasa, dalam pernikahanya, dia akan bertindak sadistis. Pernikahan semacam ini bisa terus dipertahankan kalau ia mendapatkan istri/suami yang masechistik (sademasochistic balance). Mungkin disini perlunya pertimbangan melihat akhlak seseorang kepada keluarganya (ayah/ibu/saudara).

5. Role Reversal (peran terbalik)

Kalau boleh agak bercanda, mungkin tipe ini yang paling disukai wanita jaman sekarang, apalagi aktivis gender: “Bapak, tolong ya cucian piring dan gelas, setrikaan baju, masakan di dapur, gunting taman, nyapu halaman, nyuapin anak, daftar belanja-nya … diselesaikan, ibu mau baca Koran dulu,,,”

Atau dengan kata lain peranan suami-istri yang terbalik. Tetapi ternyata menurut dokter tersebut, tipe semacam ini justru sering terjadi di kalangan mahasiswa yang menikah dengan wanita yang pandai mencari nafkah dan bertindak sebagai kepala keluarga. Model seperti ini pun tampaknya dianut tetangga sebelah rumahku, bahkan seorang ustadz yang pernah kujumpai pun memiliki tipe keluarga seperti ini.

6. Etc.

Masih ada tipe lainya problema psikiatrik dalam keluarga, tetapi rasanya tidak perlu kujabarkan lebih banyak.

Sebagai penutup : pikiran yang panjang dan psikologis yang dewasa amat diperlukan dalam mengambil keputusan dari setiap langkah kehidupan kita. Kadang kita hidup tetapi tidak siap untuk dewasa. Kadang kita siap untuk dewasa tetapi tidak siap untuk jatuh cinta. Kadang kita siap jatuh cinta tetapi tidak siap untuk patah hati, atau mungkin kita siap jatuh cinta tetapi tidak siap untuk menikah. Kadang kita siap untuk menikah tetapi tidak siap memiliki keluarga. Kadang kita siap berkeluarga tetapi tidak siap bertanggung jawab, dst. Manusia bisa berencana, berkeinginan tetapi akhirnya, tetap yang di atas yang menentukan. Kita mengira apa-apa yang kita ingini adalah hal yang terbaik bagi kita, sementara apa-apa yang tidak kita sukai adalah hal yang buruk bagi kita, padahal Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hambanya.

*) Khusus buat yang hampir menikah saja

Mungkin kita kerap kali mendapati teori-teori bagaimana caranya memprioritaskan agenda. Tetapi kenyataanya terkadang kita kebingungan ketika dihadapkan 2 atau 3 acara sekaligus pada satu waktu. Ketika tidak berhasil memprioritaskan acara tersebut dengan baik maka hasilnya kita terpaksa mengorbankan suatu acara dan tak jarang bahkan korban perasaan.

Andaikata kita mati-matian menyempatkan/ menyediakan waktu untuk menghadiri suatu kegiatan tetapi disana kita temui hanya segilintir saja partisipan/ undangan, tentu saja ada rasa kecewa yang akan menyusup di hati. Hal ini bisa dimungkinkan karena orang-orang tersebut gagal membuat prioritas. Atau bisa juga apa yang kita pandang sebagai suatu prioritas yang penting, belum tentu sama ketika dilihat dari perspektif orang lain. Apalagi bagi aktivis, hal semacam ini seringkali kita alami: jadwal syuro’, jadwal kuliah, jadwal training dan acara sebagainya dalam satu waktu. Tidak hanya bagi aktivis, sebagai manusia biasa pun kemampuan untuk memprioritaskan agenda dengan baik, akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini sedikit tips dari pengalaman hidupku, mungkin tidak berdasarkan dari teori manapun, tapi semoga bisa bermanfaat:

Satu, tingkat urgensi dan waktu. Urgensi tidak bisa dipisahkan dari waktu, begitu pula sebaliknya. Ada 4 tipe hubungan urgensi dengan waktu : agenda yang penting dan mendesak, agenda yang tidak penting tetapi mendesak, agenda yang penting dan tidak mendesak dan agenda yang tidak penting dan tidak mendesak. Ketika ada beberapa acara yang berbenturan, kemampuan untuk memilah tingkat keurgensian dan kemendesakan suatu acara ini penting untuk dapat memprioritaskan suatu agenda dengan baik.

Untuk urgensi ini, saya ada pembahasan khusus. Sedikit bercerita tentang pengalaman saya di semester awal kuliah, ketika berinteraksi dengan teman-teman dari di fakultas lain. Dulu, saya beranggapan kuliah adalah prioritas yang paling penting. Rapat, training ataupun agenda apapun lainya tidak dapat mengalahkanya. Kalau teman-teman dari fakultas lain bersedia absen hanya untuk menghadiri acara tersebut, saya tidak. Bagi saya (jaman dulu) kuliah teman-teman dari fakultas lain remeh temeh, tidak sebanding dengan kuliah di fakultas kedokteran yang berat dan ‘penting’. Hal itu terjadi hanya karena saya terbiasa terdoktrinasi dengan keeklusifan FK yang identik dengan kuliah padat, praktikum banyak, buku tebal. Tetapi benarkah begitu? Parameter apa yang membuat kita dapat mengatakan ‘berat’ itu benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin apa yang kita sebut ‘berat’ itu, sebenarnya tidak benar-benar ‘berat’. Apakah mungkin justru orang lain yang kuliahnya benar-benar ‘berat’ tetapi tidak pernah merasakan hal tersebut? Sama halnya ketika kita mengatakan bumi ini sangat besar ketika kita berdiri di permukaanya. Tetapi dengan cepat kita akan mengatakanya bumi ini sangat kecil ketika sudah dibandingkan dengan matahari. Begitulah yang kudapati seiring proses perjalananku.

Terkadang permasalahan yang kita anggap besar, tidak benar-benar besar sampai kita berani mencoba untuk membuktikan apakah yang besar itu benar-benar besar ataukah sebenarnya kecil dengan membandingkanya dengan hal lain. Dan satu lagi, berhenti menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Terkadang kita membutuhkan sudut pandang lain atau bahkan lebih dari satu sudut pandang untuk menilai sesuatu. Karena menilai dari satu sisi saja akan sangat terkait dengan ego. Terkadang agenda yang kita pilih untuk kita lakukan adalah hal yang sepele saja, tetapi kita membuatnya seakan-akan hal itu adalah peristiwa besar hanya karena ego. Ego untuk dihargai, ego untuk dikatakan penting, ego untuk pengakuan atau ego lainya. Dan ego ini sangat erat dengan usia muda.

Dua, rutinitas atau kejadian luar biasa. Acara-acara penting, akan tetapi berupa rutinitas, biasanya tersingkir dengan acara yang bukan rutinitas yang hanya dapat terjadi suatu masa sekali bahkan seumur hidup sekali, mungkin itulah yang saya maksudkan dengan kejadian luar biasa. Pernikahan, kelahiran, kematian yang mungkin terjadi sekali seumur hidup tentu saja akan menjadi prioritas yang lebih penting daripada sekadar mendahulukan kuliah yang merupakan rutinitas. Atau mengambil contoh mudik ketika masa lebaran yang hanya terjadi satu tahun sekali. Walaupun sekedar perjalanan pulang tapi tidak seorang pun ingin menggantinya di bulan lain meskipun dengan biaya yang murah. Karena mungkin hal tersebut bisa dikatakan ‘bukan suatu rutinitas atau kejadian luar  biasa’.

Tiga, fleksibilitas. Meskipun kita mendapati kedua acara yang sama-sama penting, kita bisa mengundurkan acara yang fleksibilitasnya lebih tinggi. Fleksibilitas tinggi yang saya maksudkan disini ialah suatu acara yang dimana kita dapat mengganti kehadiran kita dengan orang lain, atau kita menggantinya/reschedule pada kesempatan lain, atau kita dapat mengkompensasinya dengan hal lain atau mungkin kita bisa berhubungan/berkomunikasi tanpa menuntut kehadiran kita disana(seperti dengan email misalnya), tidak begitu masalah jika tidak diprioritaskan.

Empat, individu atau orang banyak. Hal-hal yang terkait individu/ hanya butuh diri sendiri untuk menyelesaikanya, lebih mudah dilakukan daripada berurusan dengan orang banyak. Orang mudah saja lari atau mengabaikan orang lain dan mementingkan diri sendiri/ egoism tanpa memikirkan orang lain. Tapi apakah pernah kemudian kita berfikir sebaliknya? Bagaimana perasaan kita apabila kita menjadi korban keegoisan orang lain? Mungkin itulah yang perlu dipikirkan ketika kita akan meninggalkan acara dimana banyak orang lain akan menjadi korban.

Bertemu dosen yang hanya dapat ditemui seminggu sekali jelas penting, apalagi berkonsultasi skripsi sebagai syarat kelulusan setiap mahasiswa yang kuliah, tentu sangat penting. Tetapi saya lebih memilih untuk sekadar berjalan-jalan berkeliling kampus dan ngobrol tidak penting saat OSPEK hanya karena saya bertanggung jawab kepada lebih banyak orang dan bukan hanya urusan pribadi.

Lima, Value. Bisa kita artikan sebagai nilai, ruh, tidak sekedar wujud fisik keberadaan sekumpulan tulang yang dibungkus kulit dalam suatu tempat dalam suatu waktu.

Reuni SMA misalnya, hanya urusan berkumpul, tertawa dan bercerita. Tetapi ada suatu rasa berat ketika meninggalkanya karena disana ada suatu value dari 3 tahun yang tidak tergantikan.

Makan, mungkin hanya masalah mengisi perut. Tetapi ketika dirangkaikan menjadi suatu kata’makan malam bersama’ tidak lagi urusan mengisi perut. Walaupun bukan perkara penting dan mendesak, bisa jadi suatu hal yang selalu kita lakukan, bisa jadi fleksibilitasnya tinggi, bisa jadi hanya melibatkan satu individu saja bukan banyak orang, tetapi ketika kita tidak datang, bukan hanya lapar yang kita rasakan tapi ada juga rasa kecewa, tidak enak, sedih, beban moral dan lain-lainya. Karena di situ ada suatu ‘nilai’ tersendiri.

Enam, fifty-fifty atau all-or-none. Kalau disuruh memilih: menghadiri setengah-setengah (fifty-fifty) ataukah meninggalkan yang satu sama sekali dan menghadiri yang lain tetapi full sejak awal sampai akhir, saya biasanya akan memilih yang kedua. KENAPA? Fifty-fifty kedengaranya solusi yang cukup bagus, solusi jalan tengah. Tetapi kenyataanya sangat sulit mengaplikasikanya, karena selain tidak focus pada suatu acara, kita akan mengecewakan kedua belah pihak. Berbeda pada all-or-none. Tetapi ada catatan ketika kita memilih all-or-none (ya atau tidak sama sekali), agenda tersebut (yang akan kita tinggalkan) harus memiliki fleksibilitas yang tinggi dan value yang tidak begitu tinggi. Dengan begitu kita bisa menggantinya dikesempatan lain atau disiasati dengan cara lain. Meskipun tidak selalu begitu, terkadang fifty-fifty bisa menjadi solusi yang terbaik, tergantung kebutuhan.

Allah Menyayangiku

Allah sangat menyayangiku,
Ketika aku lupa,
Ia mengingatkanku melalui pesan-pesan agama

Ketika aku lalai,
Ia menamparku dengan realitas dunia,

Ketika aku tidak tahu,
Ia mengajariku dengan hikmah kehidupan

Ketika aku salah melangkah,
Ia membenturkanku dengan pahitnya kenyataan,

Ketika aku jatuh,
Ia membuatku belajar untuk berdiri

Ketika aku kesepian,
Ia memberiku orang-orang yang mencintaiku

Ketika aku butuh cinta,
Kutemukan diri-Nya selalu ada
Karena Ia adalah maha pemberi cinta
yang membuatku tidak pernah bertepuk sebelah tangan

Biar, pada-Nya saja,
Cinta ku agungkan
Karena aku ingin,
Allah menyayangiku.

* di tulis di sisa ramadhan 2009

Older Posts »